FinanSaya.com – Ekonomi China mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan serius di tengah perang dan tekanan global yang terus memanas.
Melansir dari chosun.com, berbagai sektor penting di China kini mulai mengalami tekanan besar.
Padahal sebelumnya China dianggap lebih tahan terhadap dampak perang dibanding negara Asia lainnya karena memiliki cadangan minyak strategis yang besar dan investasi energi terbarukan yang kuat.
Namun kondisi terbaru menunjukkan ekonomi China ternyata tidak sepenuhnya kebal dari tekanan global.
Penjualan Mobil China Anjlok Tajam
Salah satu tanda paling terlihat datang dari sektor otomotif.
Data dari China Passenger Car Association menunjukkan penjualan mobil ritel pada 1 hingga 19 April 2026 turun sekitar 26 persen dibanding tahun lalu.
Yang lebih mengejutkan, penjualan mobil berbahan bakar bensin bahkan anjlok hampir 40 persen.
Padahal sektor otomotif menjadi salah satu penggerak utama ekonomi China karena berkaitan langsung dengan industri baja, kaca, hingga manufaktur besar lainnya.
Akibat turunnya permintaan, stok kendaraan mulai menumpuk di dealer dan banyak pabrik mobil terpaksa memangkas produksi.
Produksi kendaraan di China pada dua minggu pertama April bahkan turun sekitar 27 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Industri Mainan Mulai Berguguran
Tekanan juga mulai menghantam industri mainan China yang selama ini menjadi salah satu pemasok terbesar dunia.
Dari laporan NYT, banyak pabrik mainan di Yulin, wilayah manufaktur murah di selatan China, mulai bangkrut akibat lonjakan harga plastik yang berasal dari minyak dan gas alam.
Ribuan pekerja yang kehilangan pekerjaan disebut mulai melakukan aksi protes setiap hari untuk menuntut gaji dan kompensasi yang belum dibayarkan.
Beberapa pabrik yang tutup diketahui milik perusahaan berbasis Hong Kong, Wah Shing Toys.
Perusahaan tersebut menyebut perang dagang China dan Amerika Serikat serta memburuknya bisnis luar negeri membuat arus kas perusahaan terganggu.
Harga Plastik Bikin Industri Panik
Karena China memproduksi sekitar sepertiga mainan dunia, kenaikan harga plastik kini mulai membuat banyak pelaku industri khawatir.
Bahkan asosiasi industri mainan di Shantou Chenghai memperingatkan bahwa lonjakan harga plastik mulai memicu kepanikan dan aksi penimbunan bahan baku.
Kondisi ini membuat tekanan ekonomi China semakin terasa di banyak sektor sekaligus.
Target Pertumbuhan Ekonomi Mulai Dipertanyakan
Pemerintah China sebelumnya menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 di kisaran 4,5 persen hingga 5 persen.
Namun sejumlah ekonom mulai meragukan target tersebut bisa tercapai.
Ekonom Asia-Pasifik dari Natixis, Alicia García-Herrero, mengatakan ekonomi China kini sedang melambat dan pertumbuhan di atas 4,5 persen akan sulit dicapai.
Sementara ekonom Peking University, Michael Pettis, menilai penumpukan stok barang dapat menjadi beban besar bagi pertumbuhan ekonomi China ke depan. (Sol)




