FinanSaya.com – Kawasan Eropa dilaporkan mulai mendekati ambang kritis krisis bahan bakar pesawat atau jet fuel.
Kondisi ini memicu kekhawatiran baru di industri penerbangan global karena berpotensi menyebabkan lebih banyak pembatalan penerbangan hingga penutupan bandara kecil dalam beberapa bulan ke depan.
Laporan terbaru Goldman Sachs memperkirakan cadangan jet fuel komersial Eropa bisa turun di bawah batas kritis International Energy Agency (IEA) pada Juni 2026.
Krisis ini disebut berkaitan erat dengan gangguan pasokan energi global akibat konflik Timur Tengah.
Melansir dari fortune.com, penutupan Selat Hormuz membuat distribusi minyak dan bahan bakar dari kawasan Teluk terganggu.
Padahal sekitar 20 hingga 25 persen pasokan minyak dunia melewati jalur strategis tersebut setiap hari.
Akibatnya, harga energi terus tertekan dan stok bahan bakar global mulai menyusut.
Cadangan Bisa Turun ke Level Berbahaya
Goldman Sachs memperingatkan bahwa jika situasi tidak membaik, persediaan jet fuel Eropa bisa turun menjadi hanya 20 hari pada Juli dan 15 hari pada Agustus.
Meski angka tersebut bukan berarti bahan bakar langsung habis total, kondisi itu menunjukkan cadangan dunia semakin tipis.
Dan semakin kecil cadangan, semakin besar risiko pembatasan distribusi bahan bakar untuk maskapai.
Industri Penerbangan Mulai Terdampak
Dampaknya mulai terasa di sektor penerbangan.
Puluhan ribu jadwal penerbangan musim panas dilaporkan sudah dibatalkan.
Lufthansa menjadi salah satu maskapai yang melakukan pengurangan jadwal besar-besaran dengan memangkas sekitar 20 ribu penerbangan hingga Oktober.
Sementara harga tiket pesawat dilaporkan naik lebih dari 20 persen dibanding tahun lalu.
Stok Jet Fuel Turun 50 Persen
Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, menyebut stok jet fuel di kawasan Amsterdam-Rotterdam-Antwerp telah turun sekitar 50 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Menurutnya, tren penurunan masih terus berlangsung dan belum menunjukkan tanda pemulihan.
“Kita seperti berjalan menuju bencana tanpa benar-benar menyadarinya,” ujarnya.
Wilayah Eropa Selatan disebut menjadi area paling rentan karena sangat bergantung pada impor energi Timur Tengah.
Analis GasBuddy, Patrick De Haan, memperingatkan bahwa bandara kecil dan menengah kemungkinan akan terkena dampak paling besar.
Sebab dalam kondisi krisis, pemerintah biasanya lebih memprioritaskan pasokan untuk penerbangan internasional dan bandara utama.
Kilang Mulai Fokus Produksi Jet Fuel
Untuk meredam tekanan pasokan, sejumlah perusahaan energi Eropa mulai memprioritaskan produksi jet fuel dibanding bensin atau diesel.
CEO TotalEnergies, Patrick Pouyanné, mengatakan seluruh kilang perusahaan di Eropa kini diarahkan untuk meningkatkan produksi bahan bakar pesawat.
Namun peningkatan produksinya dinilai masih terbatas.
Selain itu, Eropa juga kini memiliki lebih sedikit kilang minyak dibanding beberapa tahun lalu dan semakin bergantung pada impor energi. (Sol)




