Ekspor Nonmigas RI Melambat, Surplus Dagang Tertekan

|

3 Views
Ekspor Nonmigas RI Melambat, Surplus Dagang Tertekan

FinanSaya.com – Ekspor nonmigas Indonesia mulai kehilangan tenaga pada awal 2026.

Bank Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan nonmigas pada triwulan I 2026 turun menjadi 13,3 miliar dolar AS. Angka ini lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025 yang masih sebesar 16,0 miliar dolar AS.

Pelemahan ini terjadi saat impor justru meningkat.

Dalam laporan Neraca Pembayaran Indonesia triwulan I 2026, BI menyebut transaksi berjalan mencatat defisit 4,0 miliar dolar AS atau 1,1 persen dari PDB, lebih dalam dibanding triwulan sebelumnya. BI juga mencatat neraca perdagangan nonmigas tetap surplus, tetapi lebih rendah sejalan dengan perlambatan ekonomi global dan gangguan rantai pasok perdagangan antarnegara.

Ekspor Nonmigas Jadi Titik Tekan

Ekspor nonmigas pada triwulan I 2026 tercatat 63,5 miliar dolar AS.

Nilai ini turun dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 69,7 miliar dolar AS. Secara tahunan, ekspor nonmigas memang masih tumbuh 1,2 persen, tetapi melambat dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 5,4 persen.

Di sinilah sinyalnya mulai terlihat.

Ekonomi Indonesia masih mampu mencetak surplus dari perdagangan nonmigas. Namun ruang surplusnya makin sempit karena laju ekspor tidak sekuat sebelumnya.

Jika tren ini berlanjut, tekanan terhadap transaksi berjalan bisa membesar.

Komoditas Utama Belum Solid

Perlambatan ekspor nonmigas dipengaruhi kinerja sejumlah komoditas utama yang tertahan.

Ekspor batubara, kokas, dan briket masih terkontraksi 8,4 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Tekanan ini cukup penting karena batubara selama ini menjadi salah satu komoditas ekspor besar Indonesia.

Kondisi tersebut dipengaruhi perubahan kebutuhan dan permintaan dari sejumlah negara tujuan.

Di satu sisi, kebutuhan domestik negara mitra seperti Jepang meningkat karena kebutuhan listrik untuk pendingin ruangan. Di sisi lain, permintaan India juga naik untuk memenuhi kebutuhan industri.

CPO Tumbuh, Tapi Tidak Sekuat Sebelumnya

Komoditas minyak dan lemak nabati, terutama crude palm oil atau CPO, masih mencatat pertumbuhan.

Pada triwulan I 2026, ekspor CPO tumbuh 5,6 persen secara tahunan.

Namun pertumbuhan ini jauh lebih lambat dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 20 persen.

Penyebabnya, permintaan dari India dan Tiongkok menurun karena harga ekspor lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Di sinilah ekspor nonmigas menghadapi dilema.

Harga komoditas yang tinggi bisa membantu nilai ekspor. Namun jika terlalu mahal bagi pembeli, permintaan bisa tertahan.

Akhirnya, pertumbuhan tetap ada, tetapi kecepatannya melambat.

Besi dan Baja Jadi Penopang

Tidak semua komoditas bergerak lemah.

Ekspor besi dan baja tumbuh 2,8 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Ini membaik setelah pada triwulan sebelumnya terkontraksi 2,2 persen.

Perbaikan ini terutama ditopang kenaikan permintaan dari Tiongkok.

Produk seperti besi dan baja, bijih logam, sisa-sisa logam, bahan kimia organik, serta logam tidak mengandung besi ikut mendorong kinerja ekspor ke negara tersebut.

Namun, ketergantungan pada beberapa komoditas dan pasar utama tetap perlu dicermati.

Jika permintaan dari Tiongkok berubah, efeknya bisa langsung terasa pada surplus perdagangan Indonesia.

Baca Juga: Kebijakan Ekspor SDA Indonesia Dapat Warning dari S&P

Tiongkok Masih Jadi Penyelamat

Berdasarkan negara tujuan, Tiongkok masih menjadi penopang utama.

Ekspor ke Tiongkok pada triwulan I 2026 tumbuh 17,4 persen, meningkat tajam dibandingkan pertumbuhan 3,7 persen pada triwulan IV 2025.

Ini menjadi kabar positif bagi ekspor nonmigas Indonesia.

Akan tetapi pasar lain justru tidak sekuat itu.

Ekspor ke Amerika Serikat hanya tumbuh 0,1 persen, jauh melambat dari 10,8 persen pada triwulan sebelumnya. Ekspor ke Malaysia terkontraksi 8,0 persen, sedangkan ekspor ke Filipina turun 3,2 persen.

Artinya, kekuatan ekspor belum merata.

Satu pasar besar membantu menahan tekanan, tetapi beberapa pasar lain mulai melemah.

Impor Naik, Surplus Menyempit

Saat ekspor nonmigas melambat, impor nonmigas justru meningkat.

BI mencatat impor nonmigas pada triwulan I 2026 sebesar 52,9 miliar dolar AS. Secara tahunan, impor nonmigas tumbuh 11,6 persen, naik dari pertumbuhan 5,1 persen pada triwulan sebelumnya.

Kenaikan impor terjadi pada barang modal, bahan baku, dan barang konsumsi.

Impor barang modal tumbuh 22,9 persen secara tahunan. Kenaikan ini terutama dipengaruhi impor mesin, perlengkapan kantor, dan barang modal lainnya.

Di satu sisi, ini bisa dibaca positif karena menunjukkan aktivitas investasi dan produksi.

Namun di sisi lain, impor yang tumbuh lebih cepat daripada ekspor membuat surplus perdagangan menyempit.

Tiongkok Juga Dominan di Impor

Dari sisi negara asal, Tiongkok masih mendominasi impor nonmigas.

Pangsanya mencapai 42,8 persen pada triwulan I 2026. Impor dari Tiongkok tumbuh 25,9 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 21,0 persen.

Selain itu, impor dari Australia dan Oseania melonjak 51,9 persen, sementara impor dari Singapura tumbuh 35,3 persen.

Dampaknya ke Transaksi Berjalan

Pelemahan ekspor nonmigas ikut menekan transaksi berjalan.

Pada triwulan I 2026, transaksi berjalan Indonesia defisit 4,0 miliar dolar AS atau 1,1 persen dari PDB. Defisit ini lebih dalam dibanding triwulan IV 2025 sebesar 2,5 miliar dolar AS atau 0,7 persen dari PDB.

BI menilai defisit transaksi berjalan masih rendah. Namun pelebarannya tetap menjadi sinyal penting bagi ketahanan eksternal.

Sebab jika ekspor melemah dan impor naik bersamaan, kebutuhan valuta asing bisa meningkat.

Dampaknya bisa terasa ke rupiah, cadangan devisa, dan sentimen investor. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya