FinanSaya.com – Ekonomi Indonesia terlihat kuat di atas kertas.
Pada kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 5,61 persen. Angka ini tampak impresif, terutama di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Namun, masalahnya tidak sesederhana itu.
Di balik angka pertumbuhan tersebut, sejumlah ekonom melihat ada kerentanan fundamental yang belum selesai. Mulai dari tekanan fiskal, pelemahan rupiah, hingga daya beli masyarakat yang belum pulih kuat.
Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Menyimpan Paradoks
Melansir dari sindonews.com, Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menilai capaian Produk Domestik Bruto atau PDB yang positif belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi riil.
“Masih ada jarak antara indikator makro dan realitas di sektor riil. Terutama di industri pengolahan, sektor manufaktur, dan kelompok masyarakat menengah ke bawah,” ungkap Rizal.
Masalahnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi seharusnya terasa lebih luas. Namun jika masyarakat bawah belum merasakan pemulihan daya beli, maka angka besar di laporan nasional bisa menyimpan persoalan di lapangan.
Di sinilah paradoks mulai terlihat.
Ekonomi Indonesia tumbuh tinggi, tetapi konsumsi masyarakat belum sepenuhnya kuat.
APBN Mulai Tertekan Sejak Awal Tahun
Tekanan lain datang dari sisi fiskal.
Belanja pemerintah tercatat melonjak tajam hingga 21,81 persen sejak awal tahun. Lonjakan ini ikut mendorong pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN.
Defisit anggaran pada kuartal I-2026 disebut hampir menyentuh 1 persen dari PDB, atau sekitar Rp240 triliun.
Kondisi ini menjadi perhatian karena batas defisit pemerintah untuk setahun penuh berada di level maksimal 3 persen.
“Jika satu kuartal saja sudah hampir 1 persen, maka ruang fiskal untuk tiga kuartal berikutnya menjadi lebih sempit,” ujarnya.
Menurutnya, belanja besar belum tentu otomatis sehat. Jika stimulus fiskal tidak menghasilkan nilai tambah besar, maka negara bisa mengeluarkan biaya besar tanpa memperkuat fondasi ekonomi secara jangka panjang.
Baca Juga: Kemensos Akui Masalah Terbesar Bansos Ada di Data
Rupiah Melemah, Cadangan Devisa Tertekan
Namun, tekanan tidak hanya datang dari APBN.
Sektor eksternal juga ikut membunyikan alarm. Cadangan devisa menunjukkan tren penurunan, sementara rupiah melemah hingga menembus asumsi makro APBN 2026 di level Rp16.500 per dolar AS.
“Kondisi ini membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61 persen terlihat kontras, karena angka pertumbuhan yang tinggi belum mampu menahan tekanan terhadap rupiah,” kata Rizal.
Jika rupiah terus melemah, dampaknya bisa melebar ke biaya impor, harga barang, inflasi, dan sentimen investor.
Artinya, ekonomi Indonesia boleh saja tumbuh tinggi. Namun stabilitas eksternal tetap menjadi risiko besar yang perlu dijaga.
Konsumsi Rumah Tangga Belum Kuat
Mesin utama ekonomi Indonesia selama ini adalah konsumsi rumah tangga.
Namun, indikator ini justru dinilai belum bergerak cukup kuat. Laju konsumsi disebut masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional.
Kondisi ini memberi sinyal bahwa daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya.
Terutama di kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi penggerak penting pasar domestik.
Contohnya sederhana.
Jika ekonomi tumbuh karena belanja pemerintah meningkat, tetapi masyarakat masih menahan belanja, maka pertumbuhan itu bisa menjadi kurang solid.
Roda ekonomi memang bergerak, tetapi belum tentu bergerak merata. (Sol)




