Ekonom Peter Schiff Peringatkan The Fed Terjebak Inflasi

|

3 Views
Ekonom Peter Schiff Peringatkan The Fed Terjebak Inflasi

FinanSaya.com – Ekonom Peter Schiff kembali menyampaikan peringatan mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Ia menilai Federal Reserve menghadapi dilema besar antara menekan inflasi dan menjaga stabilitas pasar keuangan.

Pernyataan itu disampaikan Schiff menjelang keputusan suku bunga The Fed pada Rabu, 29 Juli 2026. Dalam unggahan di platform X, ia menyoroti kemungkinan pasar bereaksi apabila bank sentral AS mengambil langkah yang mengejutkan.

Schiff mengatakan kenaikan suku bunga yang tidak diperkirakan pasar akan menjadi ujian penting bagi harga emas. Menurutnya, apabila emas tetap menguat setelah kenaikan bunga, investor mungkin mulai memahami beratnya persoalan ekonomi Amerika Serikat.

Ia menutup peringatannya dengan satu kata: “Endgame!”

Ekonom Peter Schiff Soroti Risiko The Fed

Dalam pandangan ekonom Peter Schiff, upaya serius untuk mengendalikan inflasi dapat menekan pasar dan ekonomi. Ia menilai tekanan tersebut pada akhirnya bisa memaksa The Fed kembali melonggarkan kebijakan.

Pandangan itu menggambarkan keyakinan Schiff bahwa bank sentral AS berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, suku bunga tinggi dapat membantu menahan permintaan, memperlambat kredit, dan mendorong inflasi mendekati target.

Namun di sisi lain, bunga tinggi juga menaikkan biaya pinjaman bagi rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah. Dampaknya dapat terasa pada konsumsi, investasi, pasar properti, dan valuasi saham.

Jika tekanan itu berkembang menjadi perlambatan tajam atau krisis pasar, The Fed dapat menghadapi desakan untuk memangkas bunga. Bagi ekonom Peter Schiff, pembalikan semacam itu justru berisiko menghidupkan kembali inflasi dan melemahkan kepercayaan terhadap dolar AS.

The Fed Tahan Bunga 3,50 hingga 3,75 Persen

Federal Reserve akhirnya mempertahankan target suku bunga pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen dalam rapat Juli. Keputusan itu diambil dengan suara 9 berbanding 3.

Tiga anggota Federal Open Market Committee menginginkan kenaikan 25 basis poin. Mereka menilai kebijakan yang lebih ketat masih diperlukan untuk menghadapi inflasi.

The Fed menyatakan aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih berkembang dengan kecepatan solid. Pertumbuhan lapangan kerja disebut sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja, sedangkan tingkat pengangguran relatif stabil.

Meski demikian, inflasi masih berada di atas sasaran jangka panjang bank sentral sebesar 2 persen. Kondisi ini membuat arah kebijakan berikutnya tetap menjadi perhatian pasar.

Perbedaan suara dalam rapat tersebut menunjukkan perdebatan di internal bank sentral semakin kuat. Sebagian pejabat menilai inflasi belum bergerak cukup meyakinkan menuju target, sementara sebagian lain memilih menunggu lebih banyak data.

Inflasi dan Pasokan Jadi Persoalan

Kenaikan suku bunga dapat menekan permintaan, tetapi tidak selalu langsung menyelesaikan sumber kenaikan harga. Beberapa tekanan inflasi dapat berasal dari pasokan energi, gangguan logistik, atau konflik geopolitik.

Dalam konteks itu, pengetatan terlalu agresif berisiko melemahkan ekonomi tanpa segera mengatasi penyebab utama kenaikan harga. Risiko inilah yang membuat keputusan The Fed menjadi rumit.

Baca Juga: Prediksi Peter Schiff: Bitcoin Bisa Jatuh ke US$20.000

Bunga yang lebih tinggi dapat memperlambat belanja konsumen dan investasi perusahaan. Namun, jika harga energi tetap tinggi karena gangguan pasokan, inflasi bisa tetap bertahan meski ekonomi melemah.

Situasi tersebut menjadi inti kritik Schiff terhadap kebijakan moneter AS. Ekonom Peter Schiff melihat ruang gerak The Fed terbatas karena setiap pilihan membawa konsekuensi bagi pasar, pertumbuhan, dan nilai dolar.

Emas Jadi Ukuran Kepercayaan Pasar

Emas menjadi bagian penting dalam argumen ekonom Peter Schiff. Logam mulia biasanya dipandang sebagai aset lindung nilai ketika kekhawatiran terhadap inflasi, utang, atau stabilitas mata uang meningkat.

Secara umum, kenaikan suku bunga dapat menekan emas karena aset berimbal hasil menjadi lebih menarik. Namun, Schiff menilai reaksi berbeda bisa menjadi sinyal penting.

Jika emas tetap naik setelah The Fed menaikkan bunga, hal itu dapat ditafsirkan sebagai tanda bahwa pasar mulai meragukan kemampuan bank sentral mengendalikan inflasi tanpa merusak ekonomi.

Dalam skenario tersebut, emas bukan hanya bergerak karena ekspektasi suku bunga. Harga emas juga dapat mencerminkan kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan moneter dan daya tahan dolar AS.

Pasar Bereaksi Terbatas

Setelah The Fed menahan bunga, respons pasar disebut relatif terbatas. Indeks S&P 500 memangkas penurunan, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun meningkat, sementara indeks dolar melemah.

Sejumlah analis menilai keputusan mempertahankan bunga memberi kelegaan. Sebelumnya, pasar sempat memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga yang dapat menambah tekanan terhadap ekonomi.

Meski begitu, peringatan Schiff tetap menjadi bagian dari perdebatan lebih luas mengenai arah kebijakan moneter AS. The Fed masih harus menurunkan inflasi tanpa memicu kerusakan besar pada pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas keuangan.

Pernyataan ekonom Peter Schiff juga perlu dibaca sebagai pandangan seorang ekonom yang sudah lama kritis terhadap kebijakan moneter AS dan dikenal mendukung emas. Komentarnya bukan kepastian bahwa pasar akan runtuh atau The Fed segera berbalik arah.

Arah suku bunga berikutnya akan bergantung pada perkembangan inflasi, harga energi, kondisi ketenagakerjaan, dan respons pasar menjelang pertemuan berikutnya. Dalam peringatan terbaru, ekonom Peter Schiff menempatkan emas sebagai salah satu indikator apakah pasar masih percaya pada kemampuan The Fed menghadapi inflasi. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya