FinanSaya.com – Rupiah melemah, publik mulai gelisah, pemerintah kerja ekstra, DPR RI angkat bicara.
Berdasarkan data Bank Indonesia pada Selasa, 19 Mei 2026 malam, dolar Amerika Serikat telah hinggap di level Rp17.577. Kini, obrolan soal rupiah dan dolar mulai masuk ke warung kopi.
Masalahnya, pelemahan rupiah tidak hanya soal angka kurs.
Jika berlangsung terlalu lama, dampaknya bisa menyentuh harga barang impor, bahan baku industri, inflasi, hingga kepercayaan masyarakat terhadap otoritas ekonomi.
Rupiah Melemah, Prabowo Minta Warga Tenang
Melansir dari website resmi fraksi Golkar, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal rupiah ditujukan untuk menjaga ketenangan masyarakat.
Menurutnya, tidak semua warga merasakan dampak langsung dari penguatan dolar AS.
Terutama masyarakat pedesaan yang tidak melakukan transaksi berbasis dolar.
Namun, bukan berarti pelemahan rupiah bisa dianggap ringan.
Misbakhun menyebut pihak yang paling terdampak adalah pelaku usaha yang menggunakan bahan baku impor, masyarakat yang bepergian ke luar negeri, serta sektor-sektor yang bergantung pada komoditas impor.
Di sinilah persoalannya mulai melebar.
Masyarakat mungkin tidak membayar belanja harian dengan dolar. Tetapi jika barang yang dikonsumsi memakai bahan baku impor, tekanan kurs tetap bisa masuk ke harga akhir.
Impor Bisa Jadi Jalur Tekanan
Penguatan dolar membuat biaya impor menjadi lebih mahal.
Jika pelaku usaha membutuhkan bahan baku dari luar negeri, mereka harus menukar rupiah dalam jumlah lebih besar untuk mendapatkan dolar.
Akibatnya, biaya produksi bisa naik.
Jika kenaikan biaya itu diteruskan ke konsumen, harga barang ikut bergerak naik. Inilah yang dikhawatirkan memicu tekanan inflasi.
Ketua Komisi XI DPR RI tersebut menilai, salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah impor komoditas yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.
Jika biaya impor melonjak, dunia usaha bisa ikut tertekan.
Bukan hanya perusahaan besar, tetapi juga industri turunannya.
DPR RI: BI Harus Ambil Langkah Konkret
Misbakhun menyebut arahan Presiden juga menjadi sinyal bagi Bank Indonesia.
“BI perlu segera mengambil langkah pengendalian nilai tukar agar tekanan rupiah tidak semakin dalam,” ujar Ketua Komisi XI DPR RI tersebut.
Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia memang lebih kuat dibanding masa krisis 1998. Struktur ekonomi nasional juga disebut jauh lebih baik.
Namun, fundamental yang kuat tetap harus tercermin dalam stabilitas pasar.
Pertanyaannya sederhana.
Jika fundamental kuat, kenapa rupiah masih mengalami pelemahan signifikan secara regional?
Di sinilah BI diminta membuktikan kredibilitasnya melalui langkah konkret dan terukur.
Baca Juga: Kapan Rupiah Capai Rp20.000 Jika Dolar AS Terus Menguat?
Rp17 Ribu Jadi Angka Psikologis
Pelemahan rupiah melewati Rp17 ribu per dolar AS menjadi perhatian publik.
Sosok yang telah menduduki kursi di DPR RI sejak 2014 itu menyebut, penurunan rupiah diperkirakan berlanjut hingga sekitar Rp17.600 per dolar AS. Angka ini membuat masyarakat yang sebelumnya tidak membicarakan dolar mulai ikut memperhatikan nilai tukar.
Kondisi ini penting.
Dalam ekonomi, kepercayaan sering bergerak karena persepsi. Ketika masyarakat mulai merasa nilai tukar tidak terkendali, kecemasan bisa ikut meningkat.
Karena itu, stabilitas rupiah bukan hanya persoalan teknis pasar keuangan.
Ini juga soal menjaga rasa aman publik.
Bukan Krisis 1998, Tapi Tetap Perlu Dijaga
Misbakhun menegaskan situasi saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998.
Saat itu, pelemahan rupiah terjadi dalam konteks krisis ekonomi dan politik yang jauh lebih berat.
Namun, angka psikologis tetap punya pengaruh.
Level Rp17 ribu pernah menjadi simbol tekanan besar pada masa lalu. Karena itu, ketika kurs kembali melewati angka tersebut, wajar jika masyarakat mulai membandingkan.
Masalahnya, kekhawatiran publik bisa membesar jika tidak dijawab dengan kebijakan yang jelas.
DPR RI juga menegaskan BI perlu menjaga agar tekanan ini tidak berkepanjangan. Jika tidak, lanjutnya, kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan BI menjaga nilai tukar bisa ikut terganggu.
Prabowo Singgung Purbaya dan Stabilitas Fiskal
Sebelumnya, Presiden Prabowo juga menyinggung peran Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam menjaga stabilitas keuangan negara.
Saat meresmikan 1.061 Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Prabowo menyampaikan optimisme terhadap kondisi fiskal nasional.
Ia bahkan menyebut selama Purbaya masih bisa tersenyum, masyarakat tidak perlu khawatir. (Sol)




