Apa Itu CBDC? Ini Manfaat dan Risikonya

|

4 Views
Apa Itu CBDC? Ini Manfaat dan Risikonya

FinanSaya.com – Para pegiat kripto di media sosial X pernah berdebat tentang apa itu CBDC, yang mana tengah dikaji oleh pemerintah Amerika tahun lalu.

Sederhananya, CBDC adalah singkatan dari Central Bank Digital Currency, yaitu uang digital yang diterbitkan oleh bank sentral. Jika uang tunai adalah bentuk fisik dari uang resmi negara, CBDC bisa dipahami sebagai bentuk digital dari uang resmi tersebut.

Dalam konteks Indonesia, Bank Indonesia menyebut inisiatif CBDC Indonesia sebagai Rupiah Digital melalui Proyek Garuda. BI menjelaskan bahwa Proyek Garuda adalah inisiatif untuk mengeksplorasi desain Central Bank Digital Currency Indonesia, yaitu Rupiah Digital, sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan rupiah di era digital.

Namun, memahami apa itu CBDC tidak cukup hanya dengan menyebutnya “uang digital”. Saat ini masyarakat sudah mengenal mobile banking, QRIS, dompet digital, uang elektronik, dan transfer instan. Bedanya, sebagian besar uang digital yang kita gunakan sehari-hari adalah klaim kepada bank atau penerbit uang elektronik. CBDC berbeda karena menjadi kewajiban langsung bank sentral.

Lebih Dalam Soal Apa Itu CBDC

CBDC adalah uang digital resmi yang diterbitkan bank sentral dan memiliki status sebagai bentuk uang negara. BIS menyederhanakan CBDC sebagai “digital banknote” atau uang kertas digital yang dapat dipakai individu untuk membayar bisnis, toko, atau orang lain dalam bentuk retail CBDC.

Simpelnya, jika uang kertas Rp100.000 diterbitkan oleh Bank Indonesia dalam bentuk fisik, maka Rupiah Digital adalah gagasan tentang rupiah yang hadir dalam bentuk digital resmi dari bank sentral.

CBDC bisa dirancang untuk dua kebutuhan besar.

Pertama, retail CBDC, yaitu CBDC yang dapat digunakan masyarakat umum untuk pembayaran sehari-hari.

Kedua, wholesale CBDC, yaitu CBDC yang digunakan oleh lembaga keuangan untuk transaksi antarbank, penyelesaian transaksi besar, atau kebutuhan pasar keuangan.

Tidak semua negara akan memilih desain yang sama. Ada negara yang fokus pada pembayaran ritel, ada yang lebih tertarik pada transaksi antarbank, dan ada yang masih sebatas riset.

Bedanya CBDC dengan Uang Elektronik

Pertanyaan penting setelah memahami apa itu CBDC, yakni apa bedanya dengan uang elektronik atau saldo dompet digital?

Uang elektronik dan saldo rekening digital umumnya diterbitkan atau dikelola oleh lembaga selain bank sentral, seperti bank komersial atau penerbit uang elektronik. Saldo yang terlihat di aplikasi adalah klaim terhadap lembaga tersebut.

CBDC berbeda karena merupakan klaim langsung kepada bank sentral. BIS menjelaskan bahwa uang digital yang saat ini dapat diakses publik umumnya diterbitkan bank komersial atau penerbit uang elektronik, sehingga membawa risiko kredit dari penerbitnya. Sebaliknya, CBDC adalah kewajiban langsung bank sentral dan tidak membawa risiko kredit penerbit seperti uang digital swasta.

Artinya, CBDC berada di lapisan yang lebih dasar dalam sistem uang. Ia bukan sekadar saldo aplikasi, melainkan bentuk digital dari uang bank sentral.

Bedanya CBDC dengan Kripto

Apa itu CBDC tentunya berbeda dari kripto seperti Bitcoin atau Ethereum.

Bitcoin tidak diterbitkan oleh bank sentral. Jumlah, mekanisme penerbitan, dan transaksinya berjalan melalui jaringan terdesentralisasi. Nilainya sangat bergantung pada permintaan pasar, kepercayaan komunitas, dan dinamika spekulatif.

CBDC diterbitkan oleh bank sentral. Nilainya mengikuti mata uang resmi negara. Jika Indonesia menerbitkan Rupiah Digital, nilainya tetap rupiah, bukan aset spekulatif baru.

Dalam pembahasan apa itu CBDC, itu bukanlah kripto dalam pengertian Bitcoin. CBDC bisa saja memakai teknologi tertentu yang mirip dengan sistem digital modern, tetapi prinsip dasarnya berbeda: CBDC adalah uang resmi negara, sedangkan banyak kripto adalah aset digital non-negara.

Kenapa Bank Sentral Mengkaji CBDC?

Bank sentral mengkaji CBDC karena cara masyarakat membayar sudah berubah. Transaksi tunai menurun di banyak tempat, pembayaran digital meningkat, dan aset digital swasta berkembang cepat.

CBDC dilihat sebagai cara agar uang bank sentral tetap relevan di era digital. Jika semua pembayaran digital dikuasai lembaga swasta, bank sentral perlu memastikan tetap ada bentuk uang publik yang aman dan dipercaya.

IMF menjelaskan bahwa CBDC dapat menawarkan penyimpan nilai yang aman dan alat pembayaran yang efisien. CBDC juga dapat membantu inklusi keuangan serta mengurangi risiko dollarization atau cryptoization di sejumlah negara, meski tetap memiliki konsekuensi terhadap sistem perbankan dan kebijakan moneter.

Dengan kata lain, pembahasan apa itu CBDC bukan hanya soal teknologi. Ini juga soal kedaulatan uang, stabilitas sistem keuangan, persaingan layanan pembayaran, dan kepercayaan publik.

Bagaimana Rupiah Digital di Indonesia?

Di Indonesia, pembahasan apa itu CBDC dikenal melalui Rupiah Digital. Bank Indonesia menjalankan Proyek Garuda sebagai payung eksplorasi desain CBDC Indonesia. BI menyatakan Rupiah Digital merupakan kontribusi BI untuk menjaga kedaulatan rupiah di era digital.

Ini penting karena penggunaan uang digital terus meningkat. Jika masyarakat makin terbiasa memakai pembayaran digital, bank sentral perlu memastikan rupiah tetap menjadi jangkar utama dalam sistem pembayaran nasional.

Namun, eksplorasi bukan berarti CBDC langsung beredar untuk semua orang. Biasanya, bank sentral akan mengkaji desain, teknologi, keamanan, dampak ke bank, regulasi, dan kesiapan masyarakat sebelum mengambil langkah lebih jauh.

Ilustras CBDC yang pernah dipermasalahkan masyarakat dan pegiat kripto di Amerika, terutama tentang privasi

Plus CBDC bagi Masyarakat dan Ekonomi

CBDC punya sejumlah potensi manfaat.

Pertama, meningkatkan efisiensi pembayaran. Jika dirancang baik, CBDC bisa membuat transaksi digital lebih cepat, murah, dan aman.

Kedua, menjadi uang digital yang sangat aman. Federal Reserve menjelaskan bahwa CBDC sebagai kewajiban bank sentral dapat menjadi aset digital paling aman yang tersedia bagi publik, tanpa risiko kredit atau risiko likuiditas seperti pada penerbit swasta.

Baca Juga: FUD dalam Dunia Kripto, Apa Artinya?

Ketiga, mendorong inklusi keuangan. CBDC dapat dirancang agar masyarakat yang belum sepenuhnya terlayani bank tetap bisa mengakses alat pembayaran digital yang resmi dan aman. Namun, manfaat ini sangat bergantung pada desain, akses perangkat, literasi digital, dan infrastruktur.

Keempat, mendukung inovasi sistem pembayaran. CBDC bisa membuka ruang untuk pembayaran otomatis, penyelesaian transaksi lebih cepat, dan integrasi dengan sistem keuangan digital.

Kelima, menjaga kedaulatan mata uang. Di tengah perkembangan aset digital swasta dan stablecoin, apa itu CBDC bisa membantu memastikan mata uang resmi tetap menjadi alat pembayaran utama di dalam negeri.

Minus CBDC yang Perlu Diwaspadai

Meski menarik, CBDC juga punya risiko.

Pertama, risiko privasi. Jika semua transaksi digital dapat ditelusuri terlalu rinci, masyarakat bisa khawatir terhadap pengawasan berlebihan. Karena itu, desain privasi menjadi isu penting.

Kedua, risiko terhadap bank komersial. Jika masyarakat memindahkan terlalu banyak dana dari rekening bank ke CBDC, dana pihak ketiga di bank bisa berkurang. Ini dapat memengaruhi kemampuan bank menyalurkan kredit.

IMF mencatat bahwa CBDC dapat meningkatkan persaingan terhadap pendanaan deposito, mendorong bank lebih bergantung pada pendanaan wholesale, dan menekan profit bank.

Ketiga, risiko bank run digital. Dalam kondisi panik, masyarakat bisa memindahkan dana dari bank ke CBDC dengan sangat cepat jika CBDC dianggap lebih aman. Karena itu, banyak desain CBDC mempertimbangkan batas saldo, model bertingkat, atau pembatasan tertentu.

Keempat, risiko keamanan siber. CBDC harus dirancang dengan keamanan tinggi. Jika sistemnya terganggu, dampaknya bisa luas karena menyangkut uang resmi negara.

Kelima, risiko kesenjangan digital. Jika CBDC terlalu bergantung pada ponsel pintar, internet, atau literasi digital, sebagian masyarakat bisa tertinggal. Karena itu, desain CBDC perlu memperhatikan akses offline atau solusi bagi kelompok yang belum terbiasa dengan teknologi.

Apakah CBDC Akan Gantikan Uang Tunai?

CBDC belum tentu menggantikan uang tunai. Banyak bank sentral melihat CBDC sebagai pelengkap, bukan penghapus uang fisik.

Uang tunai masih punya fungsi penting. Ia mudah dipakai, tidak memerlukan perangkat, bisa digunakan saat jaringan bermasalah, dan memberi tingkat privasi tertentu. Di banyak negara, uang tunai juga masih penting bagi masyarakat yang belum sepenuhnya masuk ke sistem keuangan digital.

CBDC lebih tepat dipahami sebagai bentuk baru uang bank sentral di era digital. Jika diterapkan, ia bisa hidup berdampingan dengan uang tunai, rekening bank, dan sistem pembayaran digital lain.

Kenapa CBDC Tidak Bisa Asal Diterbitkan?

Karena CBDC menyentuh inti sistem uang, penerbitannya tidak bisa asal cepat.

Bank sentral harus memikirkan desain hukum, teknologi, keamanan, perlindungan konsumen, privasi, dampak ke bank, dampak ke kebijakan moneter, dan interoperabilitas dengan sistem pembayaran yang sudah ada.

BIS menekankan bahwa CBDC menyangkut desain sistem pembayaran dan uang bank sentral, sehingga perlu dikaji dari sisi stabilitas, efisiensi, keamanan, dan dampaknya terhadap sistem keuangan.

Karena itu, wajar jika banyak negara masih berada di tahap riset, pilot, atau eksperimen. Jika bertanya apa itu CBDC, maka itu bukan hanya proyek aplikasi pembayaran. CBDC adalah desain ulang sebagian infrastruktur uang. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya