FinanSaya.com – Pos aktiva luar negeri bersih Bank Indonesia turun tajam pada Juni 2026. Berdasarkan data Analytical Balance Sheet of Monetary Authority dalam Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia BI, nilai aktiva luar negeri bersih tercatat Rp1.850,39 triliun.
Angka tersebut turun dari posisi Mei 2026 yang sebesar Rp2.038,04 triliun. Dengan demikian, pos ini menyusut sekitar Rp187,65 triliun dalam satu bulan, atau turun 9,2 persen secara bulanan.
Perubahan ini menjadi sorotan karena terjadi bersamaan dengan lonjakan kewajiban kepada bukan penduduk. Dalam neraca analitis otoritas moneter, aktiva luar negeri bersih mencerminkan selisih antara tagihan kepada bukan penduduk dan kewajiban kepada bukan penduduk.
Aktiva Luar Negeri Bersih Turun Tajam
Penurunan aktiva luar negeri bersih pada Juni 2026 bukan disebabkan oleh turunnya tagihan kepada bukan penduduk. Data BI justru menunjukkan tagihan kepada bukan penduduk naik dari Rp2.841,66 triliun pada Mei 2026 menjadi Rp2.993,03 triliun pada Juni 2026.
Artinya, tagihan kepada bukan penduduk bertambah sekitar Rp151,37 triliun dalam satu bulan. Akan tetapi, kenaikan tersebut tidak cukup untuk menahan penurunan aktiva luar negeri bersih karena kewajiban kepada bukan penduduk naik jauh lebih besar.
Pada periode yang sama, kewajiban kepada bukan penduduk mengalami kenaikan dari Rp803,62 triliun menjadi Rp1.142,64 triliun. Kenaikannya mencapai sekitar Rp339,02 triliun dalam satu bulan.
Secara persentase, kewajiban kepada bukan penduduk tumbuh sekitar 42,2 persen secara bulanan. Kenaikan inilah yang membuat posisi bersih neraca eksternal otoritas moneter tertekan meski tagihan kepada bukan penduduk masih meningkat.
Kewajiban Bukan Penduduk Naik 72 Persen Tahunan
Secara tahunan, perubahan pada pos ini juga cukup besar. Pada Juni 2025, aktiva luar negeri bersih BI tercatat Rp2.029,01 triliun.
Jika dibandingkan dengan angka pada bulan Juni 2026 yang sebesar Rp1.850,39 triliun, pos tersebut turun sekitar Rp178,62 triliun. Penurunan tahunannya sekitar 8,8 persen.
Perubahan lebih mencolok terlihat pada kewajiban kepada bukan penduduk. Pada Juni 2025, kewajiban tersebut berada di Rp663,62 triliun.
Setahun kemudian, nilainya naik menjadi Rp1.142,64 triliun. Dengan demikian, kewajiban kepada bukan penduduk bertambah sekitar Rp479,02 triliun, atau melonjak sekitar 72,2 persen secara tahunan.
Sebagai informasi, data ini menunjukkan tekanan utama pada aktiva luar negeri bersih BI datang dari sisi kewajiban. Ketika kewajiban naik lebih cepat daripada tagihan, posisi bersih dapat turun meskipun aset atau tagihan luar negeri tetap bertambah.
Baca Juga: Malware Perbankan Bisa Kuras Rekening? Ini Faktanya
Uang Primer Masih Naik Tipis
Di sisi lain, perubahan besar pada aktiva luar negeri bersih tidak langsung membuat uang primer turun. BI mencatat uang primer pada Juni 2026 sebesar Rp1.807,37 triliun.
Posisi tersebut naik tipis dari Mei 2026 yang sebesar Rp1.794,61 triliun. Kenaikannya sekitar Rp12,76 triliun secara bulanan.
Sementara itu, uang primer yang telah disesuaikan atau adjusted base money berada di Rp2.228,02 triliun pada Juni 2026. Data ini menunjukkan bahwa neraca otoritas moneter tidak hanya dipengaruhi oleh pos eksternal.
Pergerakan uang primer juga dipengaruhi pos lain, termasuk tagihan bersih kepada pemerintah pusat, operasi pengendalian moneter, serta kewajiban dan modal lainnya.
Data Juni Masih Sementara
BI memberi tanda bahwa data Mei dan Juni 2026 masih bersifat sementara. Dalam tabel, kedua periode tersebut diberi tanda bintang dengan keterangan provisional figures.
Meski demikian, perubahan pada Juni 2026 tetap penting dicermati karena nilainya besar dalam satu bulan. Pos aktiva luar negeri bersih turun Rp187,65 triliun, sementara kewajiban kepada bukan penduduk naik Rp339,02 triliun.
BI juga mencatat bahwa angka Mei dan Juni 2026 masih bersifat sementara. Hal ini terlihat dari tanda bintang pada periode Mei dan Juni 2026 dalam tabel, dengan keterangan bahwa tanda tersebut merujuk pada provisional figures atau data sementara.
Dengan perkembangan tersebut, neraca analitis otoritas moneter BI pada Juni 2026 menunjukkan perubahan besar pada sisi eksternal. Pos aktiva luar negeri bersih turun ke Rp1.850,39 triliun di tengah lonjakan kewajiban kepada bukan penduduk menjadi Rp1.142,64 triliun. (Sol)




