FinanSaya.com – Nilai tukar rupiah masih bergerak di kisaran Rp17.700 terhadap dolar Amerika menjelang akhir pekan, Jumat (28/8/2026).
Pergerakan mata uang Garuda masih dipengaruhi sentimen global, terutama arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan inflasi di negara tersebut.
Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia, kurs rupiah pada Kamis (27/8/2026) berada di Rp17.762 per dolar Amerika.
Posisi tersebut melemah dibandingkan 26 Agustus 2026 yang berada di Rp17.717 per dolar Amerika. Dengan demikian, rupiah melemah 45 poin atau sekitar 0,25 persen dalam satu hari berdasarkan kurs referensi JISDOR.
Dolar Amerika Masih Jadi Sentimen
Meski melemah harian, rupiah masih lebih kuat jika dibandingkan posisi 18 Agustus 2026.
Pada tanggal tersebut, kurs rupiah berada di Rp17.856 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan posisi 27 Agustus, rupiah masih menguat sekitar 94 poin.
Pergerakan ini menunjukkan rupiah masih berada dalam rentang tekanan, tetapi belum kembali ke level terlemah yang tercatat pada pertengahan Agustus.
Pasar masih mencermati dinamika dolar Amerika karena mata uang AS menjadi acuan utama di pasar valuta asing global.
BI Rate Tetap 5,75 Persen
Pergerakan rupiah berlangsung setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan.
Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18–19 Agustus 2026, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen.
Suku bunga Deposit Facility juga tetap 4,75 persen. Sementara Lending Facility dipertahankan di 6,50 persen.
BI menyatakan keputusan tersebut salah satunya diarahkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global.
Kebijakan suku bunga menjadi salah satu instrumen penting karena dapat memengaruhi daya tarik aset rupiah dan aliran modal.
BI Gunakan NDF dan DNDF
Bank Indonesia sebelumnya mencatat rupiah berada di level Rp17.855 per dolar AS pada 18 Agustus 2026.
Posisi itu menguat 0,78 persen secara point-to-point dibandingkan akhir Juli 2026.
BI menilai penguatan tersebut didukung strategi stabilisasi melalui berbagai instrumen moneter. Salah satunya dengan mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing.
Instrumen yang digunakan mencakup transaksi Non-Deliverable Forward atau NDF di luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward atau DNDF di pasar domestik.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan meredam dampak gejolak global terhadap pasar keuangan domestik.
Baca Juga: RAPBN 2027 Usulkan Defisit 2 Persen
Inflasi AS Jadi Perhatian
Dari luar negeri, perhatian pasar terhadap dolar Amerika masih tertuju pada data inflasi AS.
Data U.S. Bureau of Economic Analysis yang dirilis 26 Agustus 2026 menunjukkan Personal Consumption Expenditures Price Index AS pada Juli 2026 naik 3,7 persen secara tahunan.
Sementara core PCE, yang mengecualikan komponen makanan dan energi, tumbuh 3,3 persen secara tahunan.
Secara bulanan, indeks PCE dan core PCE masing-masing naik 0,2 persen pada Juli.
Data PCE menjadi penting karena indikator ini termasuk ukuran inflasi yang diperhatikan Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Jika inflasi AS tetap tinggi, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed dapat berubah dan berdampak pada pergerakan dolar Amerika.
Indeks Dolar AS Melemah
Di sisi lain, data Federal Reserve menunjukkan indeks broad dollar berada di level 118,0628 pada 21 Agustus 2026.
Posisi tersebut turun dibandingkan 119,6951 pada 3 Agustus 2026.
Penurunan indeks broad dollar menunjukkan dolar AS secara umum melemah terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang selama sebagian besar Agustus.
Namun, pelemahan indeks dolar secara luas tidak selalu langsung membuat rupiah menguat. Pergerakan rupiah tetap dipengaruhi kombinasi faktor global, kondisi domestik, arus modal, dan strategi stabilisasi bank sentral.
Rupiah Dijaga dari Gejolak Global
Bank Indonesia memperkirakan nilai tukar rupiah tetap stabil dengan dukungan kebijakan stabilisasi.
Bank sentral juga menegaskan akan terus menggunakan berbagai instrumen moneter untuk menjaga stabilitas rupiah.
Stabilisasi diperlukan agar gejolak global tidak memberi tekanan berlebihan pada inflasi domestik dan aktivitas ekonomi.
Hingga data JISDOR terakhir pada 27 Agustus 2026, rupiah tercatat Rp17.762 per dolar Amerika, melemah 45 poin dari sehari sebelumnya tetapi masih lebih kuat 94 poin dibandingkan posisi 18 Agustus 2026. (Sol)




