FinanSaya.com – Bank Indonesia memperkirakan retail Surabaya berbalik tumbuh pada Juni 2026. Dalam data Survei Penjualan Eceran, kinerja penjualan eceran Kota Surabaya diprakirakan naik 6,6 persen secara bulanan atau month to month.
Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi di antara kota-kota yang tercakup dalam survei BI. Angka ini juga menandai pembalikan setelah penjualan eceran Surabaya masih berada di zona kontraksi pada dua bulan sebelumnya.
Pada Mei 2026, retail Surabaya turun 5,0 persen secara bulanan. Kontraksi itu sudah lebih kecil dibandingkan April 2026 yang mencapai 10,6 persen.
Dengan demikian, tren penjualan eceran Surabaya bergerak dari kontraksi 10,6 persen pada April, menyusut menjadi 5,0 persen pada Mei, lalu diprakirakan tumbuh 6,6 persen pada Juni 2026.
Retail Surabaya Pimpin Pertumbuhan Bulanan
Prakiraan BI menempatkan retail Surabaya di posisi teratas dari sisi pertumbuhan bulanan pada Juni 2026. Kenaikan 6,6 persen membuat Surabaya berada di atas sejumlah kota lain yang juga diperkirakan tumbuh.
Semarang, termasuk Purwokerto, diprakirakan tumbuh 1,3 persen secara bulanan. Medan diperkirakan naik 0,9 persen, sedangkan Denpasar tumbuh 0,4 persen.
Di sisi lain, beberapa kota masih diprediksi mengalami kontraksi. Bandung menjadi kota dengan penurunan terdalam, yakni 18,7 persen secara bulanan.
Jakarta juga diprakirakan turun 3,6 persen. Sementara itu, penjualan eceran di Manado diprediksi melemah 2,9 persen.
Perbedaan arah antarkota ini menunjukkan pemulihan penjualan eceran pada Juni belum merata. Surabaya menjadi salah satu kota yang diprakirakan mencatat pembalikan paling kuat dibandingkan bulan sebelumnya.
Tahunan Masih Terkontraksi
Meski tumbuh paling tinggi secara bulanan, kinerja retail Surabaya belum sepenuhnya pulih apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan peta prakiraan pertumbuhan Indeks Penjualan Riil secara spasial, Surabaya masih diprediksi terkontraksi 1,7 persen secara tahunan pada Juni 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan Juni lebih mencerminkan pemulihan jangka pendek dari posisi Mei. Secara tahunan, retail Surabaya masih belum kembali ke level yang lebih kuat dibandingkan Juni 2025.
Dengan kata lain, pembalikan bulanan perlu dibaca hati-hati. Kenaikan 6,6 persen menandakan perbaikan momentum, tetapi kontraksi tahunan 1,7 persen menunjukkan basis penjualan belum sepenuhnya menguat.
IPR Nasional Masih Turun
Pada tingkat nasional, BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil atau IPR Juni 2026 berada di level 221,6. Angka tersebut turun 4,4 persen secara tahunan.
Secara bulanan, penjualan eceran nasional juga masih diprakirakan turun 0,8 persen. Namun, penurunan itu lebih kecil dibandingkan Mei 2026 yang tercatat turun 1,5 persen.
Baca Juga: ROE dalam Saham, Begini Cara Baca dan Contohnya
Perbaikan bulanan nasional diperkirakan ditopang oleh beberapa kelompok barang. Penjualan perlengkapan rumah tangga lainnya diprakirakan tumbuh 1,9 persen secara bulanan.
Kelompok sandang juga diprediksi tumbuh lebih tinggi, yakni 4,7 persen secara bulanan. BI mengaitkan perkembangan tersebut dengan mulai berlangsungnya periode liburan sekolah pada akhir Juni 2026.
Liburan Sekolah Jadi Faktor Penopang
Momentum liburan sekolah menjadi salah satu faktor yang menopang perbaikan penjualan eceran nasional. Kebutuhan belanja sandang dan perlengkapan tertentu cenderung meningkat ketika aktivitas keluarga dan persiapan pendidikan bergerak lebih aktif.
Namun, tidak semua kelompok barang diprakirakan menguat. BI mencatat kelompok barang budaya dan rekreasi, suku cadang dan aksesori, serta makanan, minuman, dan tembakau masih diprakirakan mengalami kontraksi bulanan.
Meski masih turun, kontraksi pada kelompok-kelompok tersebut diperkirakan lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini menunjukkan tekanan penjualan eceran mulai mereda, walaupun belum berubah menjadi pertumbuhan di semua kategori.
Untuk retail Surabaya, prakiraan Juni 2026 menunjukkan pembalikan yang lebih kuat dibandingkan arah nasional. BI memperkirakan retail Surabaya tumbuh 6,6 persen secara bulanan, sementara IPR nasional masih turun 0,8 persen dan penjualan eceran Surabaya secara tahunan masih terkontraksi 1,7 persen.
Jika dibandingkan dengan kota Jakarta, posisi retail Surabaya pada Juni 2026 terlihat lebih menonjol. Saat Surabaya diprakirakan tumbuh 6,6 persen secara bulanan, Jakarta justru masih diperkirakan turun 3,6 persen. Jika dihitung dari arah pertumbuhannya, terdapat jarak sekitar 10,2 poin persentase antara Surabaya dan Jakarta. (Sol)




