FinanSaya.com – Pemerintah mulai memasarkan BBM B50, yakni solar dengan campuran 50 persen bahan bakar nabati berbasis sawit. Produk tersebut diprioritaskan untuk konsumsi domestik, terutama bagi masyarakat yang menggunakan bahan bakar bersubsidi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan harga untuk konsumen subsidi tetap dipatok Rp6.800 per liter.
“B50 ini untuk konsumsi domestik, khusus kepada saudara-saudara kita yang kena subsidi tetap harganya Rp6.800/liter,” ucap Bahlil, dikutip Sabtu (11/7/2026).
Berdasarkan pantauan pada media sosial resmi Pertamina, harga Biosolar masih berada di Rp6.800 per liter. Namun, penyaluran BBM B50 belum tersedia di seluruh SPBU.
BBM B50 Masuk SPBU Bertahap
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, sejauh ini 57 persen SPBU Pertamina sudah menjual BBM B50.
SPBU yang telah menyalurkan bahan bakar tersebut tersebar di Jawa, Sumatera, hingga sebagian wilayah Sulawesi. Pemerintah masih memberi waktu transisi agar stok B40 yang beredar dapat dihabiskan lebih dulu.
“57% SPBU-nya Pertamina udah ada. Itu di Jawa, Sumatera, terus sebagian Sulawesi ada. Jadi mulai menyebar. Tapi Pertamina sudah melaporkan tadi bahwa 57% sudah tersalurkan,” ungkap Eniya.
Pemerintah memberikan masa transisi selama tiga bulan bagi badan usaha BBM. Setelah masa transisi tersebut, seluruh SPBU di Indonesia ditargetkan menjual BBM B50 secara penuh mulai 1 Oktober 2026.
Bahlil Klaim B50 Lebih Baik dari B40
Bahlil menyebut hasil uji jalan menunjukkan kualitas B50 lebih baik dibandingkan B40. Salah satu indikator yang disoroti adalah daya tahan filter bahan bakar kendaraan selama proses pengujian.
“Alhamdulillah, Pak, hasil tesnya ternyata kualitas BBM B50 jauh lebih baik daripada B40,” kata Bahlil.
Menurut Bahlil, pada penggunaan B40, filter bahan bakar kendaraan umumnya harus diganti setelah menempuh jarak 10.000 hingga 20.000 kilometer. Pada uji B50, ada kendaraan yang disebut sudah menempuh 40.000 kilometer, tetapi filternya belum perlu diganti.
Indikator tersebut digunakan pemerintah untuk menunjukkan bahwa peningkatan kadar campuran sawit pada solar tidak otomatis menurunkan performa kendaraan. Pemerintah juga menguji bahan bakar tersebut pada berbagai moda transportasi.
Baca Juga: BBM Nabati Indonesia Diklaim Bisa Hemat Miliaran Dolar
Uji Jalan Libatkan Banyak Kendaraan
Bahlil mengatakan uji jalan dilakukan selama enam bulan. Pengujian tidak hanya memakai kendaraan penumpang, tetapi juga melibatkan kereta api, bus, mobil Mercedes, hingga kapal.
“Ini test case-nya 6 bulan. Jadi kereta api, mobil Mercedes pun dites, Pak. Bus tidak hanya Toyota, Mercedes pun oke. Jadi ini dari Asia sampai Eropa semua kita bikin, kapal-kapal semuanya kita tes,” kata Bahlil.
Dengan uji tersebut, pemerintah ingin memastikan BBM B50 dapat digunakan pada berbagai jenis kendaraan dan mesin. Hasil pengujian menjadi dasar sebelum penyaluran dilakukan secara lebih luas.
Meski demikian, penerapan penuh tetap dilakukan bertahap. SPBU yang belum menjual B50 masih memiliki waktu untuk menyelesaikan stok B40 selama masa transisi.
Harga Subsidi Tetap Rp6800
Salah satu perhatian utama dalam peluncuran BBM B50 adalah harga bagi konsumen subsidi. Pemerintah menegaskan harga tetap Rp6.800 per liter.
Kebijakan ini membuat pengguna Biosolar subsidi tidak langsung menghadapi kenaikan harga ketika campuran biodiesel dinaikkan dari B40 menuju B50.
Di sisi distribusi, Pertamina disebut telah mulai menyalurkan B50 ke lebih dari separuh SPBU. Namun, karena cakupan baru 57 persen, masyarakat masih dapat menemukan SPBU yang menjual B40 selama periode transisi.
Pemerintah menargetkan seluruh SPBU dapat menjual B50 penuh mulai 1 Oktober 2026, setelah masa transisi tiga bulan untuk menghabiskan stok B40 selesai.
Sebagaimana dituliskan dalam artikel sebelumnya, Persiapan B50 sudah masuk tahap uji teknis di sejumlah sektor. Dalam uji jalan sektor otomotif, Kementerian ESDM menyebut hasil sementara hingga April 2026 menunjukkan penggunaan B50 pada kendaraan diesel berada dalam kondisi aman dan tidak ditemukan kendala signifikan.
Untuk kendaraan kategori di atas 3,5 ton, target jarak tempuh 40.000 kilometer sudah selesai dilakukan. Sementara kendaraan di bawah 3,5 ton telah mencapai 40.000 kilometer dari target 50.000 kilometer, dengan kondisi mesin dan filter bahan bakar masih dalam batas standar pabrikan. (Sol)




