FinanSaya.com – CEO CryptoQuant, Ki Young Ju menilai Bitcoin masih memiliki peluang mengalami satu lagi siklus bull run parabolik. Namun, ia menekankan bahwa reli besar berikutnya membutuhkan modal yang jauh lebih besar dibanding siklus-siklus sebelumnya.
Pandangan Ki Young Ju itu mengacu pada data realized cap Bitcoin per siklus. Realized cap menggambarkan modal bersih yang masuk ke jaringan Bitcoin berdasarkan nilai koin saat terakhir berpindah, bukan sekadar kapitalisasi pasar berdasarkan harga terkini.

Dalam grafik yang diunggah Ki Young Ju di media sosial X, siklus 2011–2013 mencatat kenaikan realized cap sekitar US$2,8 miliar. Dengan tambahan modal tersebut, harga Bitcoin disebut mampu naik sekitar 55.436%.
Kondisinya berbeda jauh pada siklus 2022–2026 yang masih berjalan. Data grafik menunjukkan Bitcoin membutuhkan tambahan realized cap sekitar US$697,38 miliar untuk menghasilkan kenaikan harga sekitar 689%.
Ki Young Ju Soroti Efisiensi Modal Bitcoin
Menurut Ki Young Ju, perubahan itu menunjukkan efisiensi kapital Bitcoin terus menurun seiring membesarnya ukuran pasar. Pada fase awal, modal kecil dapat mendorong lonjakan harga yang sangat besar karena basis pasar Bitcoin masih rendah.
Grafik CryptoQuant juga menunjukkan perbandingan kebutuhan modal untuk setiap kenaikan harga 100%. Pada siklus 2011–2013, Bitcoin hanya membutuhkan sekitar US$5,05 juta realized cap tambahan untuk menggandakan harga.
Pada siklus 2015–2017, kebutuhan modal untuk kenaikan 100% meningkat menjadi sekitar US$653,44 juta. Angkanya kembali melonjak pada siklus 2018–2021 menjadi sekitar US$18,23 miliar.
Pada siklus 2022–2026, kebutuhan realized cap untuk menghasilkan kenaikan harga 100% mencapai sekitar US$101,12 miliar. Angka tersebut memperlihatkan bahwa Bitcoin kini membutuhkan arus modal jauh lebih besar untuk mencetak persentase kenaikan yang sama.
Bull Run Bitcoin Belum Dianggap Selesai
Meski efisiensi modal menurun, Ki Young Ju tidak menilai peluang bull run Bitcoin telah berakhir. Ia melihat perubahan tersebut sebagai bagian dari proses pendewasaan aset yang kini memiliki kapitalisasi dan basis investor lebih besar dibanding masa awal.
Dengan ukuran pasar yang semakin besar, Bitcoin tidak lagi bisa mengandalkan arus dana kecil untuk mencetak lonjakan harga ekstrem. Siklus parabolik berikutnya dinilai lebih bergantung pada masuknya modal institusional dalam skala besar.
Dalam pandangan tersebut, Bitcoin perlu berkembang menjadi aset makro utama yang mendapat alokasi portofolio secara permanen dari institusi keuangan global. Artinya, dorongan harga tidak cukup hanya berasal dari investor ritel atau arus dana jangka pendek.
Ki Young Ju menilai proses tersebut masih berada pada tahap awal dan belum gagal. Ia menyebut peluang bull run parabolik berikutnya masih terbuka jika realized cap Bitcoin mampu menembus US$1 triliun.
Baca Juga: ETF Bitcoin Spot BlackRock Catat Outflow Jumbo
Bitcoin Dibandingkan dengan Emas
Dalam bahan yang sama, posisi Bitcoin juga dibandingkan dengan emas. Kapitalisasi pasar emas disebut berada di kisaran US$27 triliun, jauh lebih besar dibanding Bitcoin.
Perbandingan tersebut dipakai untuk menunjukkan ruang pertumbuhan Bitcoin jika aset ini semakin diterima sebagai penyimpan nilai global. Namun, ruang pertumbuhan itu juga berarti kebutuhan modal baru akan semakin besar.
Untuk mendorong kenaikan harga signifikan pada siklus berikutnya, Bitcoin diperkirakan membutuhkan arus modal bersih hingga triliunan dolar. Karena itu, Ki Young Ju menempatkan adopsi institusional sebagai faktor utama dalam fase pertumbuhan berikutnya.
“Untuk mendorong kenaikan harga yang signifikan pada siklus berikutnya, Bitcoin kemungkinan membutuhkan arus modal bersih hingga triliunan dolar. Karena itu, adopsi institusional akan menjadi faktor penentu utama dalam fase pertumbuhan selanjutnya,” ujarnya.
Data ETF juga mendukung poin Ki Young Ju bahwa siklus berikutnya harus ditopang institusi. Menurut laporan Spark, spot Bitcoin ETF AS sempat menyerap lebih dari 1,3 juta BTC dalam 18 bulan pertama, atau sekitar 6,4% dari circulating supply, dengan cumulative net inflow sekitar US$58,7 miliar per Mei 2026.
Namun skala ini masih kecil dibanding kebutuhan siklus baru yang menurut Ki bisa mencapai triliunan dolar. Bahkan Citi baru-baru ini memangkas asumsi inflow ETF Bitcoin 2026 menjadi nol karena arus keluar dan lemahnya minat investor. Artinya, ETF saja belum cukup. Bitcoin butuh alokasi institusi yang lebih permanen.
Pada siklus 2022–2026, grafik menunjukkan realized cap Bitcoin telah bertambah sekitar US$697,38 miliar, sementara price return berada di kisaran 689%. (Sol)
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan sebagai informasi dan edukasi, bukan merupakan ajakan, rekomendasi, maupun saran investasi untuk membeli atau menjual aset tertentu. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan kondisi keuangan pribadi.




