FinanSaya.com – Investasi saham kini mulai dilirik generasi muda. Namun bagi para pemula, sebaiknya pahami dulu istilah dasar dalam saham agar tidak terlalu pusing saat sudah ‘nyemplung’ di pasar.
Kali ini, tim FinanSaya telah merangkum apa saja istilah dasar dalam saham bagi para investor pemula.
Saham dan Emiten
Salah satu istilah dasar dalam saham, yakni saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan.
OJK dalam buku edukasi keuangan menjelaskan saham sebagai bukti kepemilikan dari suatu perusahaan. Artinya, ketika seseorang membeli saham, ia memiliki sebagian kecil perusahaan tersebut.
Nah, kalau perusahaan yang menerbitkan saham di pasar modal disebut emiten.
Contohnya, jika seseorang membeli saham perusahaan perbankan, berarti ia menjadi salah satu pemilik perusahaan itu dalam porsi sangat kecil.
Namun, menjadi pemilik saham tidak berarti bisa langsung mengatur perusahaan.
Hak investor biasanya mengikuti aturan pasar modal, termasuk hak atas dividen jika perusahaan membagikan laba.
BEI, Sekuritas, dan RDN
Di Indonesia, perdagangan saham dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia atau BEI.
Namun investor tidak bisa langsung membeli saham ke bursa. Investor harus membuka rekening melalui perusahaan sekuritas. Sekuritas bertindak sebagai perantara perdagangan saham.
Selain rekening efek, investor juga membutuhkan Rekening Dana Nasabah atau RDN.
OJK memiliki pedoman khusus mengenai pembukaan rekening efek dan RDN secara elektronik melalui perusahaan efek. Ini menunjukkan bahwa RDN merupakan bagian penting dalam proses investasi saham modern.
Salah satu istilah dasar dalam saham, RDN digunakan untuk menyimpan dana transaksi.
Dana untuk membeli saham masuk ke RDN. Hasil penjualan saham juga masuk ke rekening tersebut.
Di sinilah pemula perlu membedakan uang pribadi dan dana investasi.
Lot, Harga Saham, dan Modal Awal
Istilah dasar dalam saham berikutnya adalah lot.
Di pasar saham Indonesia, 1 lot setara dengan 100 lembar saham. Sejumlah edukasi sekuritas menyebut standar 1 lot saham di BEI adalah 100 lembar dan menjadi satuan minimum pembelian saham.
Contohnya sederhana.
Jika harga satu saham Rp1.000, maka untuk membeli 1 lot dibutuhkan:
100 lembar x Rp1.000 = Rp100.000
Jumlah itu belum termasuk biaya transaksi.
Masalahnya, pemula sering melihat harga saham per lembar, lalu lupa bahwa pembelian dilakukan per lot.
Jadi, saham Rp5.000 bukan berarti cukup beli dengan Rp5.000. Minimal pembeliannya adalah 1 lot, yaitu 100 lembar.
Capital Gain dan Capital Loss
Keuntungan saham bisa datang dari capital gain.
Capital gain adalah keuntungan dari selisih harga jual yang lebih tinggi daripada harga beli.
Misalnya, investor membeli saham di harga Rp1.000 per lembar, lalu menjualnya di harga Rp1.300.
Keuntungannya:
Rp1.300 – Rp1.000 = Rp300 per lembar
Jika investor memiliki 1 lot atau 100 lembar, capital gain kotor menjadi:
Rp300 x 100 = Rp30.000
Namun, harga saham juga bisa turun.
Jika saham dibeli di Rp1.000 lalu dijual di Rp800, maka investor mengalami capital loss sebesar Rp200 per lembar.
Di sinilah risiko saham muncul.
Saham bisa memberi untung, tetapi juga bisa membuat rugi jika keputusan beli tidak didukung analisis.
Dividen Bukan Selalu Ada
Selain capital gain, investor juga bisa mendapat dividen.
Pada pandangan umum istilah dasar dalam saham, dividen adalah pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham.
Namun, tidak semua emiten membagikan dividen. Ada perusahaan yang memilih menahan laba untuk ekspansi, membayar utang, membangun pabrik, atau memperkuat operasional.
Kebijakan dividen tergantung kondisi perusahaan dan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham.
Karena itu, jika tujuan investasi adalah mencari pendapatan rutin dari dividen, investor perlu melihat riwayat pembagian dividen dan kemampuan laba perusahaan.
IHSG, LQ45, dan Blue Chip
Untuk membaca kondisi pasar secara umum, investor sering melihat IHSG.
IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan menggambarkan pergerakan harga saham secara keseluruhan di BEI.
Namun, IHSG naik bukan berarti semua saham naik. IHSG turun juga bukan berarti semua saham turun.
Ada juga indeks LQ45, yaitu indeks yang berisi 45 saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar. Saham dalam indeks ini biasanya lebih aktif diperdagangkan.
Istilah dasar dalam saham lainnya yang populer adalah blue chip.
Saham blue chip biasanya merujuk pada perusahaan besar, mapan, dikenal luas, dan punya kinerja relatif stabil.
Namun, blue chip tetap bukan jaminan pasti untung.
Harga saham perusahaan besar pun bisa turun jika pasar sedang tertekan atau kinerja perusahaan melemah.
Baca Juga: Michael Burry Sebut Saham AI Mulai Berbahaya
Likuiditas dan Market Cap
Sebagai salah satu istilah dasar dalam saham, likuiditas menunjukkan seberapa ramai saham diperdagangkan.
Saham yang likuid lebih mudah dibeli dan dijual. Sebaliknya, saham yang sepi transaksi bisa menyulitkan investor saat ingin keluar.
Masalahnya, saham yang terlihat naik tinggi belum tentu mudah dijual.
Jika pembelinya sedikit, investor bisa terjebak.
Selain likuiditas, pemula perlu memahami market cap atau kapitalisasi pasar.
Market cap dihitung dari harga saham dikalikan jumlah saham beredar.
Rumusnya:
Market Cap = Harga Saham x Jumlah Saham Beredar
Market cap membantu investor melihat ukuran sebuah perusahaan di pasar saham.
Bid, Offer, Bullish, dan Bearish
Dalam transaksi harian, investor akan melihat istilah bid dan offer.
Bid adalah antrean harga beli. Offer atau ask adalah antrean harga jual.
Jika ingin cepat membeli, investor bisa membeli di harga offer. Jika ingin menawar lebih rendah, investor bisa memasang bid dan menunggu ada penjual yang cocok.
Istilah dasar dalam saham juga mencakup bullish dan bearish.
Bullish berarti pasar cenderung naik. Bearish berarti pasar cenderung turun.
Dua istilah dasar dalam saham ini sering dipakai untuk menggambarkan sentimen pasar.
Namun, jangan membeli hanya karena pasar disebut bullish. Tetap lihat harga, valuasi, dan kondisi emiten.
Cut Loss, Take Profit, dan Average Down
Investor juga perlu mengenal strategi risiko.
Cut loss adalah menjual saham dalam posisi rugi untuk mencegah kerugian lebih besar.
Take profit adalah menjual saham saat harga sudah naik untuk mengamankan keuntungan.
Ada juga average down, yaitu membeli saham yang sama saat harga turun agar harga rata-rata turun.
Namun, average down berbahaya jika dilakukan tanpa analisis.
Jika harga turun karena fundamental perusahaan memburuk, membeli lagi justru bisa memperbesar kerugian.
Sebaliknya, average up dilakukan ketika investor membeli lagi saham yang sama saat harga naik karena masih yakin pada prospeknya.
Fundamental, Teknikal, Support, dan Resistance
Dalam saham, ada dua pendekatan analisis utama.
Analisis fundamental melihat kondisi bisnis perusahaan. Mulai dari laporan keuangan, laba, utang, arus kas, prospek industri, sampai kualitas manajemen.
Analisis teknikal melihat pergerakan harga melalui grafik, volume, tren, support, resistance, dan indikator teknikal.
Support adalah area harga yang dianggap sebagai batas bawah sementara.
Resistance adalah area harga yang dianggap sebagai batas atas sementara.
Volume transaksi juga penting.
Semakin besar volume, semakin ramai saham itu diperdagangkan.
ARA, ARB, dan Aksi Korporasi
Di Indonesia, pemula juga sering mendengar istilah dasar dalam saham seperti ARA dan ARB.
Auto rejection adalah batas maksimum dan minimum kenaikan atau penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan. Mekanisme ini ditetapkan BEI agar perdagangan saham berjalan wajar.
ARA berarti Auto Rejection Atas.
ARB berarti Auto Rejection Bawah.
Selain itu, ada istilah aksi korporasi seperti right issue, stock split, buyback, dan IPO.
Right issue adalah penerbitan saham baru dengan hak terlebih dahulu bagi pemegang saham lama. Stock split adalah pemecahan nilai saham agar harga terlihat lebih terjangkau. Buyback adalah aksi perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri.
Sementara IPO adalah proses ketika perusahaan pertama kali menawarkan saham kepada publik dan mulai tercatat di bursa.
Bagi investor pemula, memahami istilah dasar dalam saham bukan sekadar hafalan. Ini adalah bekal agar tidak mudah ikut-ikutan, tidak panik saat pasar bergerak, dan bisa mengambil keputusan dengan lebih sadar. (Sol)




