FinanSaya.com – Sudah tahu belum kalau rumus matematika aljabar dan keuangan ternyata berkolerasi erat dalam pembukuan?
Banyak orang mengira aljabar hanya dipakai di sekolah, penuh huruf x dan y, lalu tidak berguna setelah lulus. Padahal dalam pembukuan, aljabar justru hidup setiap hari.
Pelaku usaha biasanya mencatat uang masuk dan keluar tanpa memahami hubungan angkanya. Endingnya, mereka tahu ada penjualan, tahu ada biaya, tetapi tidak benar-benar tahu apakah usaha untung, rugi, sehat, atau sedang bocor.
Di sinilah tampak korelasi aljabar dan keuangan.
Aljabar Bantu Baca Hubungan Angka
Aljabar pada dasarnya adalah cara mencari nilai yang belum diketahui.
Dalam pembukuan, banyak angka yang harus dicari. Berapa laba bersih? Berapa modal yang tersisa? Berapa biaya maksimal agar usaha tetap untung? Berapa harga jual agar margin aman?
Semua itu memakai logika aljabar.
Contoh aljabar dan keuangan ini sederhana.
Jika pendapatan dikurangi biaya sama dengan laba, maka rumusnya:
Pendapatan – Biaya = Laba
Jika pendapatan Rp10 juta dan biaya Rp7 juta, maka laba Rp3 juta.
Namun jika laba yang diinginkan Rp4 juta dan biaya Rp7 juta, maka pendapatan minimal harus dicari.
Rumusnya menjadi:
Pendapatan – Rp7 juta = Rp4 juta
Maka pendapatan harus Rp11 juta.
Itulah korelasi aljabar dan keuangan dalam bentuk paling praktis.
Pembukuan Selalu Punya Persamaan Dasar
Dalam akuntansi, ada persamaan dasar yang sangat penting:
Aset = Liabilitas + Modal
Aset adalah semua yang dimiliki usaha. Liabilitas adalah utang atau kewajiban. Modal adalah hak pemilik atas usaha.
Rumus ini sebenarnya bentuk aljabar dan keuangan.
Jika aset Rp50 juta dan utang Rp20 juta, maka modal bisa dicari:
Rp50 juta = Rp20 juta + Modal
Maka:
Modal = Rp50 juta – Rp20 juta = Rp30 juta
Artinya, dari total aset Rp50 juta, bagian bersih milik pemilik usaha adalah Rp30 juta.
Masalahnya, banyak pelaku usaha hanya melihat aset.
Punya stok banyak, mesin, kas, dan piutang. Namun lupa bahwa sebagian aset itu mungkin dibiayai utang. Tanpa rumus ini, usaha terlihat besar, padahal modal bersihnya tidak sebesar kelihatannya.
Contoh Perhitungan Pembukuan Sederhana
Bayangkan sebuah usaha minuman kecil.
Dalam satu bulan, datanya seperti ini:
Penjualan: Rp15.000.000
Biaya bahan baku: Rp5.000.000
Gaji karyawan: Rp3.000.000
Sewa tempat: Rp2.000.000
Listrik dan air: Rp500.000
Biaya kemasan: Rp1.000.000
Total biaya dihitung dengan rumus:
Total Biaya = Bahan Baku + Gaji + Sewa + Listrik + Kemasan
Total Biaya = Rp5.000.000 + Rp3.000.000 + Rp2.000.000 + Rp500.000 + Rp1.000.000
Total Biaya = Rp11.500.000
Laba bersih:
Laba = Penjualan – Total Biaya
Laba = Rp15.000.000 – Rp11.500.000
Laba = Rp3.500.000
Dari sini terlihat usaha masih untung.
Namun, pertanyaannya belum selesai.
Apakah laba Rp3,5 juta cukup? Apakah margin aman? Apakah harga jual masih perlu dinaikkan?
Ilmu Aljabar dan Keuangan Bantu Perhitungan Margin
Margin laba membantu melihat seberapa besar keuntungan dari penjualan.
Rumusnya:
Margin Laba = Laba / Penjualan x 100%
Dengan data tadi:
Margin Laba = Rp3.500.000 / Rp15.000.000 x 100%
Margin Laba = 23,3%
Artinya, dari setiap Rp100 ribu penjualan, usaha mendapat laba sekitar Rp23.300.
Kondisi ini cukup sehat jika biaya stabil.
Namun jika harga bahan baku naik, margin bisa menyusut.
Misalnya bahan baku naik dari Rp5 juta menjadi Rp6,5 juta. Total biaya baru menjadi Rp13 juta.
Laba baru: Cara Simpel Tentukan Harga Jual Tanpa Rugi
Rp15.000.000 – Rp13.000.000 = Rp2.000.000
Margin baru:
Rp2.000.000 / Rp15.000.000 x 100% = 13,3%
Baca Juga:
Mencari Harga Jual dengan Aljabar
Aljabar juga membantu menentukan harga jual.
Misalnya satu gelas minuman membutuhkan biaya:
Bahan baku: Rp5.000
Kemasan: Rp1.000
Tenaga kerja dan operasional per gelas: Rp2.000
Total biaya per gelas:
Rp5.000 + Rp1.000 + Rp2.000 = Rp8.000
Jika pemilik ingin margin laba 25%, maka harga jual tidak bisa asal.
Rumus sederhana:
Harga Jual = Biaya / (1 – Margin)
Harga Jual = Rp8.000 / (1 – 0,25)
Harga Jual = Rp8.000 / 0,75
Harga Jual = Rp10.667
Jadi harga jual minimal sekitar Rp11.000 per gelas.
Jika dijual Rp10.000, tetap ada untung, tetapi margin tidak sesuai target.
Namun, tidak sedikit nyatanya usaha kecil menentukan harga hanya ikut pesaing.
Padahal struktur biayanya bisa berbeda.
Aljabar dan Keuangan Bisa Hitung Titik Impas
Titik impas atau break even point adalah kondisi saat usaha tidak untung dan tidak rugi.
Rumus sederhananya:
BEP Unit = Biaya Tetap / (Harga Jual – Biaya Variabel per Unit)
Misalnya:
Biaya tetap bulanan: Rp5.000.000
Harga jual per produk: Rp20.000
Biaya variabel per produk: Rp12.000
Maka:
BEP Unit = Rp5.000.000 / (Rp20.000 – Rp12.000)
BEP Unit = Rp5.000.000 / Rp8.000
BEP Unit = 625 produk
Artinya, usaha harus menjual minimal 625 produk per bulan agar tidak rugi.
Jika penjualan hanya 500 produk, usaha belum menutup biaya tetap. Jika penjualan 800 produk, barulah usaha mulai benar-benar menghasilkan laba.
Aljabar Membuat Pembukuan Lebih Jelas
Pembukuan bukan sekadar mencatat uang masuk dan uang keluar.
Pembukuan adalah cara membaca hubungan antara modal, aset, utang, biaya, pendapatan, dan laba. Hubungan itu dibangun dengan rumus.
Kemampuan aljabar dan keuangan membuat pemilik usaha bisa menjawab pertanyaan penting, yakni:
Berapa omzet minimal agar tidak rugi?
Berapa biaya maksimal yang masih aman?
Berapa harga jual yang masuk akal?
Berapa laba sebenarnya setelah semua biaya dihitung?
Berapa modal bersih setelah utang dikurangi?
Tanpa aljabar, pembukuan hanya menjadi catatan.
Dengan aljabar, pembukuan menjadi alat keputusan.
Angka Bisa Selamatkan Usaha
Banyak usaha tidak gagal karena tidak laku.
Sebagian gagal karena tidak tahu angka sebenarnya. Penjualan ramai, tetapi margin kecil. Kas masuk besar, tetapi utang juga besar. Produk laris, tetapi biaya operasional bocor.
Rumus sederhana aljabar dan keuangan bisa membantu pelaku usaha melihat kondisi dengan lebih jernih. Bukan berdasarkan perasaan, tetapi berdasarkan angka.
Aljabar tidak membuat pembukuan menjadi rumit.
Justru aljabar membuat pembukuan lebih masuk akal. Selama pemilik usaha paham hubungan dasar antara angka, keputusan keuangan bisa lebih rapi, lebih cepat, dan lebih aman. (Sol)




