Ferry Irwandi Bedah Tiga Akar Pelemahan Rupiah

|

14 Views
Ferry Irwandi Bedah Tiga Akar Pelemahan Rupiah

FinanSaya.com – Rupiah kembali jadi sorotan. Hal ini menjadi bahasan dari banyak masyarakat, salah satunya YouTuber keuangan populer Ferry Irwandi.

Sebagaimana diketahui, nilai tukar mata uang Garuda terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat. Banyak orang mulai bertanya, apakah pelemahan ini hanya karena dolar sedang kuat, atau ada masalah lain di dalam negeri?

Dalam tayangan di Channel YouTube Ferry Irwandi, pelemahan rupiah disebut tidak bisa dijelaskan dari satu sisi saja.

Masalahnya, kurs bukan hanya soal angka di layar.

Menurut Ferry, ada tiga akar penyebab utama yang saling berkaitan, yaitu faktor eksternal, faktor domestik, dan kepercayaan pasar.

Ferry Irwandi: Rupiah Melemah Bukan Cuma Karena Dolar Kuat

Ferry menilai pembahasan pelemahan rupiah di ruang publik seringkali tidak utuh.

Ada yang menyebut rupiah melemah tidak perlu dikhawatirkan karena bisa menguntungkan eksportir. Secara teori, pelemahan rupiah memang bisa membuat produk ekspor Indonesia lebih kompetitif.

Namun, menurutnya, pandangan itu belum cukup lengkap.

Keuntungan eksportir tidak otomatis dirasakan mayoritas masyarakat. Apalagi jika kebutuhan impor Indonesia tetap besar, sementara pertumbuhan ekspor tidak bergerak secepat kebutuhan impor.

Di sinilah masalahnya.

Rupiah melemah bisa memberi manfaat bagi sebagian pelaku ekspor, tetapi pada saat yang sama bisa menaikkan beban impor, biaya energi, harga barang, dan tekanan inflasi.

Faktor Pertama: Tekanan Global

Akar pertama datang dari faktor eksternal.

Dolar Amerika Serikat sedang menguat karena kondisi global belum stabil. Ketidakpastian geopolitik, konflik di Timur Tengah, serta suku bunga AS yang masih tinggi membuat investor global mencari aset yang dianggap lebih aman.

Dalam kondisi seperti ini, dolar AS sering menjadi pilihan utama.

Investor keluar dari aset negara berkembang dan masuk ke aset yang dinilai lebih aman. Dampaknya, mata uang negara berkembang ikut tertekan, termasuk rupiah.

Ferry Irwandi menyebut pelemahan tidak hanya terjadi pada rupiah.

Banyak mata uang lain juga melemah terhadap dolar AS. Namun, rupiah menjadi salah satu yang paling tertekan karena tekanan global bertemu dengan persoalan domestik.

Faktor Kedua: Tekanan Domestik

Akar Kedua berasal dari dalam negeri.

Ferry menyoroti belanja negara, subsidi energi, kebutuhan dolar, serta struktur impor dan ekspor Indonesia.

Ketika impor meningkat, kebutuhan dolar ikut naik. Jika permintaan dolar besar sementara pasokannya terbatas, rupiah bisa makin tertekan.

Contohnya sederhana.

Jika Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar untuk membayar impor energi, bahan baku, atau barang modal, maka permintaan terhadap dolar meningkat. Saat rupiah sudah melemah, biaya impor menjadi lebih mahal.

Tekanan ini bisa berputar.

Impor mahal membuat biaya produksi naik. Biaya produksi naik bisa mendorong harga barang. Jika harga barang naik, daya beli masyarakat ikut tertekan.

Baca Juga: IHSG Tertekan Tajam, Rupiah Lemah Jadi Beban

Subsidi Energi Jadi Sorotan

Ferry Irwandi juga menyinggung subsidi energi.

Subsidi pada dasarnya dibutuhkan untuk menjaga daya beli masyarakat dan menahan inflasi. Namun, ketika beban subsidi meningkat tajam, ruang fiskal pemerintah bisa semakin sempit.

Masalahnya, subsidi tidak berdiri sendiri.

Jika harga energi global naik, rupiah melemah, dan kebutuhan impor energi tetap tinggi, maka beban fiskal bisa semakin berat.

Dalam situasi global yang tidak stabil, postur APBN yang terlihat berat dapat memengaruhi cara pasar membaca ekonomi Indonesia.

Defisit APBN sendiri tidak selalu buruk.

Banyak negara menjalankan defisit anggaran. Namun jika pasar menilai belanja negara tidak efektif atau tidak cukup produktif, tekanan terhadap kepercayaan bisa muncul.

Faktor Ketiga: Kepercayaan Pasar

Akar ketiga adalah kepercayaan pasar.

Menurut Ferry Irwandi, nilai tukar tidak hanya bergerak karena data ekonomi. Kurs juga dipengaruhi persepsi investor, pelaku pasar, dan masyarakat terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah.

Pasar melihat banyak hal.

Apakah pemerintah disiplin secara fiskal. Apakah Bank Indonesia kredibel. Apakah kebijakan ekonomi jelas. Apakah komunikasi pejabat publik objektif dan tidak berlebihan.

Jika pasar merasa arah kebijakan tidak meyakinkan, tekanan bisa membesar.

Investor bisa keluar. Permintaan dolar naik. Rupiah makin tertekan.

Di sinilah komunikasi pemerintah menjadi penting.

Ferry Irwandi menilai pejabat publik seharusnya menjelaskan kondisi ekonomi secara jernih dan berbasis data. Jika komunikasi terlalu bernada glorifikasi, sementara publik dan pasar merasakan tekanan berbeda, kepercayaan justru bisa melemah.

Bukan Hanya Tugas Bank Indonesia

Pelemahan rupiah sering langsung diarahkan ke Bank Indonesia.

Padahal, menurut Ferry Irwandi, BI tidak bisa bekerja sendirian. Bank sentral memang punya kewenangan menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan moneter dan intervensi pasar.

Namun, kurs juga dipengaruhi kebijakan fiskal, belanja pemerintah, arus modal, impor, ekspor, dan persepsi pasar terhadap ekonomi nasional.

Artinya, menjaga rupiah butuh koordinasi.

Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, OJK, dan pemerintah harus bergerak selaras. Kebijakan suku bunga, subsidi, surat berharga negara, arus modal, dan pengelolaan devisa tidak boleh saling bertabrakan. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya