FinanSaya.com – IHSG tertekan tajam sejak awal perdagangan di hari pertama pekan ini.
Pada Senin, 18 Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan dibuka turun 94,35 poin ke level 6.629,97. Tekanan jual makin dalam beberapa menit setelah bursa dibuka.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia, pada pukul 09.08 WIB, IHSG melemah 2,49 persen ke posisi 6.555.
Pelemahan ini tidak hanya terjadi di satu sektor. Seluruh sektor saham masuk zona merah, yang mana menandakan tekanan pasar bergerak cukup luas.
IHSG Tertekan Tajam, LQ45 Ikut Tertekan
Tekanan juga terlihat pada indeks saham unggulan.
Indeks LQ45 ikut terkoreksi 2,28 persen ke level 643. Ini menunjukkan saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid juga tidak kebal dari tekanan jual.
Pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.631,28 dan level terendah 6.548,06.
Data pasar menunjukkan mayoritas saham melemah.
Sebanyak 519 saham turun, 111 saham menguat, dan 98 saham stagnan. Total frekuensi perdagangan mencapai 373.285 kali, dengan volume 4,5 miliar saham dan nilai transaksi sekitar Rp2,8 triliun.
Rupiah Lemah Tambah Beban Pasar
IHSG tertekan tajam ini terjadi saat rupiah juga berada dalam tekanan.
Dalam laporan yang sama, dolar Amerika Serikat berada di posisi Rp17.654 terhadap rupiah. Kondisi ini menambah beban bagi pasar saham domestik.
Di sinilah tekanan berlapis muncul.
Saat rupiah melemah, investor asing biasanya lebih berhati-hati masuk ke aset Indonesia. Pelemahan kurs juga bisa menekan emiten yang memiliki beban impor, utang dolar, atau kebutuhan bahan baku dari luar negeri.
Akibatnya, pasar saham menjadi lebih sensitif.
Investor tidak hanya melihat kinerja emiten, tetapi juga arah nilai tukar, arus modal asing, dan stabilitas ekonomi makro.
Semua Sektor Saham Masuk Zona Merah
Tekanan paling dalam terjadi pada sektor bahan dasar atau basic.
Saat IHSG tertekan tajam, sektor ini turun 4,81 persen, dan menjadi salah satu pemberat utama IHSG.
Sektor transportasi juga melemah 3,56 persen, disusul infrastruktur yang turun 3,37 persen. Sektor industri merosot 2,15 persen, sementara energi terkoreksi 1,99 persen.
Pelemahan juga terjadi di sektor lain.
Consumer cyclical turun 1,84 persen. Keuangan melemah 1,6 persen. Teknologi terkoreksi 1,26 persen. Consumer non-cyclical turun 1,19 persen. Properti melemah 1,12 persen, sedangkan kesehatan turun 0,87 persen.
Artinya, tekanan pasar tidak bersifat sempit.
Hampir seluruh kelompok saham ikut terseret saat IHSG tertekan tajam.
Baca Juga: Euforia Pasar Saham Sering Jebak Investor
Saham Big Cap Ikut Bikin IHSG Tertekan Tajam
Sejumlah saham besar ikut menjadi beban indeks.
Saham BMRI turun 1,9 persen ke level Rp4.120 per saham. Saham ADRO melemah 1,19 persen ke posisi Rp2.490 per saham.
Sementara itu, saham BUMI turun 1,87 persen menjadi Rp210 per saham.
Tekanan lebih dalam terlihat pada MBMA, yang terkoreksi 5,13 persen ke level Rp560 per saham.
Kondisi ini penting karena saham-saham besar punya bobot besar terhadap IHSG. Ketika saham big cap melemah bersamaan, indeks biasanya ikut tertekan lebih dalam.
Sentimen MSCI Masih Membayangi
Tekanan IHSG sebelumnya sudah diprediksi sejumlah analis.
Mengutip dari Kontan, pasar masih dibebani sentimen global dan domestik yang belum mereda. Beberapa faktor utama yang dicermati investor adalah dampak rebalancing indeks MSCI, konflik geopolitik Timur Tengah, dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Reuters juga melaporkan bahwa keputusan MSCI mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeksnya ikut menekan pasar.
MSCI disebut menghapus beberapa emiten Indonesia dari indeks karena isu transparansi dan konsentrasi kepemilikan. Sentimen ini sebelumnya sudah membuat indeks utama Jakarta turun 1,98 persen pada Rabu, 13 Mei 2026.
Masalahnya, efek MSCI tidak selalu berhenti dalam satu hari.
Investor global yang mengikuti indeks bisa melakukan penyesuaian portofolio secara bertahap. Ini berpotensi membuat tekanan jual masih terasa dalam jangka pendek, terutama pada saham-saham yang terdampak langsung.
Pasar Masih Berpotensi Volatil
Dengan IHSG tertekan tajam, masih ada potensi pergerakan volatil.
Jika rupiah terus melemah dan arus dana asing keluar, tekanan terhadap IHSG bisa berlanjut.
Namun jika rupiah mulai stabil dan tekanan jual mereda, peluang rebound teknikal tetap terbuka, terutama pada saham yang sudah turun dalam.
Untuk saat ini, pasar masih berada dalam mode hati-hati. IHSG anjlok bukan hanya karena satu faktor, tetapi karena kombinasi pelemahan regional, tekanan kurs, sentimen indeks global, dan koreksi serentak di seluruh sektor saham. (Sol)




