Sampah Rumah Bisa Jadi Uang di Surabaya

|

4 Views
Sampah Rumah Bisa Jadi Uang di Surabaya

FinanSaya.com – Harga plastik naik, dan sampah rumah mulai punya nilai baru.

Di Surabaya, kondisi ini membuat sampah non-organik semakin diburu pemulung hingga pengepul. Pemerintah Kota Surabaya kini mendorong warga memanfaatkan momentum tersebut untuk menambah penghasilan dari rumah.

Masalahnya, sampah yang biasanya langsung dibuang ternyata bisa menjadi peluang ekonomi jika dipilah sejak awal.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, M Fikser, mengatakan kenaikan harga plastik di pasaran membuat hasil pemilahan sampah di TPS mulai banyak dicari.

Sampah Plastik Surabaya Mulai Diburu

Fenomena ini sudah terlihat di sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle atau TPS 3R.

“Sampah plastik di TPS 3R kini sudah dipisahkan lebih awal dan ditumpuk karena banyak dipesan pengepul,” ungkap Fikser.

Di Surabaya, terdapat sekitar 12 TPS 3R yang mulai melakukan pemisahan tersebut.

Di sinilah warga bisa mengambil peluang.

wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi bersama Kepala DLH Surabaya M Fikser saat meninjau TPS Prapen

DLH Dorong Warga Pilah Sampah Rumah

DLH Surabaya berharap kenaikan harga plastik menjadi momentum bagi warga untuk memilah sampah sejak dari rumah.

Sampah non-organik seperti botol plastik, gelas plastik, kardus, kertas, dan material bernilai lain bisa dikumpulkan terpisah dari sampah basah.

Dengan cara ini, nilai jual sampah bisa lebih terjaga.

Jika sampah plastik sudah tercampur makanan, minyak, atau limbah basah, kualitasnya bisa turun. Akibatnya, harga jualnya juga bisa lebih rendah.

Contohnya sederhana.

Satu keluarga mungkin hanya menghasilkan sedikit botol plastik dalam sehari. Namun jika satu RT mengumpulkan bersama selama seminggu, jumlahnya bisa lebih besar dan lebih menarik bagi bank sampah.

Baca Juga: Cari Tambahan Penghasilan? BPS Surabaya Buka Rekrutmen Baru

Enam Bank Sampah Siap Membeli

Untuk mendukung gerakan ini, DLH Surabaya menyiapkan enam bank sampah induk.

Bank sampah tersebut siap membeli sampah rumah bernilai ekonomis dari masyarakat. Pemkot juga membuka peluang pengambilan sampah secara kolektif di tingkat RT dan RW.

Warga cukup mengumpulkan sampah rumah hasil pilahan di balai RT, balai RW, atau titik yang disepakati.

Setelah itu, petugas DLH bisa datang sesuai jadwal untuk melakukan penimbangan dan pembayaran langsung.

Kondisi ini membuat proses penjualan sampah rumah menjadi lebih praktis.

Warga tidak perlu mencari pengepul sendiri. DLH bisa memfasilitasi waktu pengambilan, penimbangan, hingga pembayaran.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi saat melakukan peninjauan di TPS Prapen

TPS Akan Diawasi Lebih Ketat

Kendati demikian, Pemkot Surabaya juga mulai memperketat pengawasan di area TPS.

“TPS seharusnya menjadi tempat penampungan residu, bukan lokasi bongkar muat sampah bernilai ekonomi,” ujarnya.

Artinya, pemilahan sebaiknya dilakukan sebelum sampah masuk TPS.

Kebijakan ini penting untuk mencegah aktivitas pemilahan liar yang bisa mengganggu kebersihan, ketertiban, dan fungsi TPS.

Jika pemilahan dilakukan dari rumah atau lingkungan RT/RW, alur sampah menjadi lebih rapi. Sampah bernilai ekonomi masuk bank sampah, sementara residu yang tidak bisa dimanfaatkan masuk TPS. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya