FinanSaya.com – IHSG kembali bergerak lemah. Pada perdagangan Senin, 11 Mei, indeks dibuka turun 0,14 persen ke level 6.959. Tekanan ini muncul saat investor masih menunggu kepastian review MSCI terhadap pasar saham Indonesia.
Masalahnya, tekanan tidak datang dari satu arah.
Pada penutupan Jumat, 8 Mei, IHSG juga sudah terkoreksi tajam 2,86 persen ke level 6.969,40. Sebanyak 10 dari 11 sektor domestik ikut melemah.
Sentimen IHSG tertekan MSCI masih menjadi beban utama pasar.
Pada 20 April, MSCI memperpanjang review reformasi pasar modal Indonesia hingga Juni 2026. Perubahan faktor inklusi foreign ownership dan migrasi saham ke indeks investable juga masih ditahan.
Kondisi ini membuat investor memilih berhati-hati.
Selama belum ada kepastian, arus dana asing bisa bergerak lebih selektif. Saham-saham besar yang terkait indeks global pun berpotensi ikut tertekan.
Rupiah Lemah Tambah Beban Pasar
Namun, MSCI bukan satu-satunya masalah.
Rupiah juga masih berada dalam tekanan. Bank Indonesia sudah menegaskan akan melakukan intervensi besar di pasar domestik dan offshore untuk menjaga stabilitas kurs.
Rupiah sempat menyentuh Rp17.445 per dolar AS pada 7 Mei.
Tekanan kurs ini membuat pasar makin sensitif. Jika rupiah terus melemah, investor asing bisa semakin hati-hati masuk ke aset Indonesia.
BI juga memperketat aturan pembelian dolar untuk menekan permintaan spekulatif.
Baca Juga: Apa Itu Fundamental IHSG? Begini Cara Bacanya
Consumer Goods Mulai Dilirik
Di tengah pasar yang belum stabil, sektor consumer goods mulai mencuri perhatian.
Sektor ini dinilai lebih defensif dibanding sektor siklikal. Artinya, permintaan terhadap produk kebutuhan sehari-hari cenderung tetap ada meski kondisi ekonomi sedang tidak menentu.
Salah satu emiten yang disorot adalah UNVR.
Pada kuartal I 2026, UNVR mencatat penjualan bersih Rp8,4 triliun, naik 2,8 persen secara tahunan. Laba bersihnya mencapai Rp1,3 triliun, tumbuh 14,1 persen year-on-year.
Penjualan domestik juga naik 3,5 persen, didorong volume growth 2,1 persen.
Saham Defensif Jadi Pilihan
Di sinilah investor mulai melihat opsi defensif.
Saat IHSG tertekan MSCI, rupiah melemah, dan tensi global masih tinggi, saham consumer goods bisa menjadi tempat berlindung sementara.
Sentimen global juga ikut mendukung. Unilever global menyebut akan menaikkan harga secara bertahap untuk mengimbangi kenaikan biaya akibat perang Iran. (Sam)




