FinanSaya.com – Investor legendaris Michael Burry kembali melontarkan peringatan keras terhadap pasar saham Amerika Serikat. Sosok yang terkenal karena memprediksi krisis perumahan 2008 itu menilai euforia terhadap kecerdasan buatan (AI) mulai menunjukkan pola yang mengingatkan pada fase akhir gelembung dot-com akhir 1990-an.
Dalam tulisan terbarunya di Substack, Burry mengatakan pasar saat ini tampak semakin tidak rasional karena investor dinilai terlalu fokus pada narasi AI dan mengabaikan berbagai indikator ekonomi penting.
“Pasar saham tidak naik atau turun karena data pekerjaan atau sentimen konsumen. Saham naik karena memang terus naik. Semua didorong oleh tesis dua huruf yang semua orang pikir mereka pahami,” tulis Burry, merujuk pada istilah “AI”.
Ia bahkan menyebut kondisi saat ini terasa seperti bulan-bulan terakhir sebelum pecahnya gelembung teknologi pada 1999–2000.
Saham AI Dinilai Jadi Penggerak Utama Pasar
Peringatan Burry muncul ketika indeks saham utama AS terus mencetak rekor tertinggi meski ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian.
Pada Jumat lalu, indeks S&P 500 ditutup di level tertinggi baru 7.398, didorong optimisme investor terhadap laporan ketenagakerjaan April yang lebih kuat dari perkiraan.
“Penguatan pasar saat ini bukan lagi didorong fundamental ekonomi seperti data pekerjaan, inflasi, atau daya beli masyarakat,” ujarnya.
Sebaliknya, investor dinilai semakin terpaku pada saham-saham yang memiliki eksposur terhadap AI, terutama sektor semikonduktor dan perusahaan teknologi besar.
Ia secara khusus menyoroti Philadelphia Semiconductor Index, indeks saham perusahaan chip, yang melonjak lebih dari 10 persen dalam sepekan dan kini telah naik sekitar 65 persen sepanjang 2026.
AI Disebut Mulai Ciptakan Pola Bubble
Booming AI dalam dua tahun terakhir memang membuat saham teknologi melesat tajam. Investor ramai-ramai memburu perusahaan yang dianggap akan mendapat manfaat dari perkembangan generative AI, mulai dari produsen chip hingga penyedia infrastruktur pusat data.
Namun, menurut Michael Burry, kondisi ini mulai menyerupai pola berbahaya saat era dot-com bubble, ketika saham teknologi melonjak tanpa memperhatikan valuasi atau kondisi bisnis sebenarnya.
Kala itu, banyak investor membeli saham hanya karena momentum kenaikan harga, hingga akhirnya gelembung pecah pada Maret 2000 dan menghapus triliunan dolar nilai pasar.
“Pasar kini kembali menunjukkan gejala serupa, di mana harga saham naik karena lebih banyak investor ikut membeli, bukan karena kondisi ekonomi benar-benar membaik,” pungkas Burry. (Sol)




