FinanSaya.com – Romance scam sering dimulai dari chat biasa.
Awalnya pelaku terlihat perhatian. Pesannya manis, intens, dan membuat korban merasa spesial. Namun setelah korban mulai percaya, arah pembicaraan berubah ke uang.
Masalahnya, banyak korban tidak sadar sedang masuk ke jebakan.
Mereka merasa sedang menjalin hubungan serius. Padahal di balik layar, pelaku sedang membangun skenario untuk mengambil uang, data pribadi, atau akses ke rekening korban.
Di sinilah romance scam menjadi berbahaya.
Bukan hanya karena kerugian finansial. Tetapi juga karena pelaku menyerang sisi emosional korban.
Apa Itu Romance Scam?
Romance scam adalah penipuan berkedok hubungan romantis.
Pelaku biasanya mendekati korban lewat media sosial, aplikasi kencan, WhatsApp, Telegram, Instagram, Facebook, atau platform online lainnya.
Tujuannya bukan benar-benar mencari pasangan.
Tujuan utamanya adalah membangun kepercayaan, membuat korban merasa dicintai, lalu memanfaatkan hubungan itu untuk meminta uang atau informasi penting.
Modus ini sering berjalan perlahan.
Pelaku bisa mengirim pesan setiap hari, memberi perhatian, memuji korban, bahkan mengaku ingin menikah atau membangun masa depan bersama.
Namun, setelah korban mulai percaya, pelaku mulai membuat alasan darurat.
Misalnya butuh uang untuk biaya berobat, tiket pesawat, pajak hadiah, masalah bisnis, atau biaya administrasi tertentu.
Cara Kerja Romance Scam
Romance scam biasanya tidak langsung meminta uang di awal.
Pelaku lebih dulu membangun hubungan emosional. Mereka ingin korban merasa dekat, nyaman, dan percaya.
Kondisi ini membuat korban lebih sulit berpikir jernih saat pelaku mulai meminta bantuan.
Biasanya, pelaku memakai identitas palsu.
Mereka bisa mengaku sebagai tentara, pengusaha, dokter, pekerja kapal, ekspatriat, duda kaya, atau orang asing yang sedang mencari pasangan serius.
Namun, ada juga pelaku yang memakai identitas lokal.
Intinya sama, yakni mereka menciptakan citra yang membuat korban tertarik dan merasa aman.
Setelah hubungan terasa dekat, pelaku mulai masuk ke tahap berikutnya.
Mereka membuat situasi darurat.
Contoh Romance Scam
Contohnya seperti ini.
Seseorang berkenalan dengan pria di aplikasi kencan. Pria itu mengaku bekerja di luar negeri dan sedang mencari pasangan serius di Indonesia.
Setiap hari ia mengirim pesan.
Ia bertanya kabar, memberi perhatian, memuji korban, dan mengatakan ingin datang ke Indonesia untuk bertemu keluarga korban.
Setelah beberapa minggu, ia mengaku sudah mengirim hadiah mahal.
Katanya, hadiah itu berisi tas, jam tangan, uang tunai, dan barang pribadi. Namun, tiba-tiba korban dihubungi orang lain yang mengaku dari jasa pengiriman.
Orang itu mengatakan paket tertahan di bea cukai.
Korban diminta membayar biaya administrasi sebesar Rp3 juta agar paket bisa dikirim. Setelah dibayar, muncul biaya lain. Lalu muncul lagi biaya pajak. Kemudian biaya asuransi.
Masalahnya, paket itu tidak pernah ada.
Pria yang mengaku serius juga menghilang setelah korban berhenti mengirim uang.
Ini adalah contoh klasik romance scam.
Pelaku membangun harapan, lalu menggunakan harapan itu untuk menekan korban agar membayar.
Contoh Romance Scam Lewat Pinjaman Uang
Ada juga modus yang lebih sederhana.
Pelaku berkenalan lewat Instagram dan mengajak korban ngobrol intens. Setelah merasa dekat, pelaku mengaku sedang mengalami masalah mendadak.
Misalnya ibunya sakit, rekeningnya diblokir, dompetnya hilang, atau bisnisnya sedang butuh dana cepat.
Pelaku lalu meminjam uang.
Nominal awal biasanya kecil, misalnya Rp200 ribu atau Rp500 ribu. Setelah korban mau membantu, jumlahnya mulai naik.
Pelaku bisa meminta Rp2 juta, Rp5 juta, bahkan lebih.
Namun, saat ditagih, pelaku punya banyak alasan. Lama-lama, ia menghilang.
Kondisi ini sering membuat korban bukan hanya kehilangan uang, tetapi juga merasa malu untuk bercerita.
Padahal korban bukan bodoh.
Pelaku memang sengaja memainkan emosi dan rasa percaya.
Ciri-Ciri Romance Scam
Romance scam punya beberapa tanda yang perlu diwaspadai.
Pelaku biasanya terlalu cepat menyatakan cinta atau komitmen. Baru kenal beberapa hari, tetapi sudah memanggil sayang, membahas pernikahan, atau mengaku tidak bisa hidup tanpa korban.
Kemudian, pelaku sering menghindari panggilan video.
Alasannya bisa macam-macam. Kamera rusak, sinyal buruk, sedang tugas, malu, atau tidak boleh membuka identitas.
Namun, ia tetap intens mengirim pesan.
Tanda lain adalah pelaku mulai meminta uang, pulsa, transfer, top up e-wallet, atau bantuan rekening.
Di sinilah alarm harus menyala.
Hubungan online yang sehat tidak seharusnya cepat berubah menjadi tekanan finansial.
Kenapa Banyak Orang Bisa Terjebak?
Romance scam berhasil karena pelaku tidak hanya menjual cerita.
Mereka menjual perasaan.
Pelaku membuat korban merasa diperhatikan, didengar, dan dihargai. Bagi orang yang sedang kesepian, baru putus, kehilangan pasangan, atau ingin punya hubungan serius, pendekatan seperti ini bisa terasa sangat meyakinkan.
Masalahnya, pelaku sering sabar.
Mereka bisa membangun hubungan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan sebelum meminta uang.
Semakin lama hubungan terasa dekat, semakin sulit korban curiga.
Korban juga sering takut kehilangan hubungan itu.
Akhirnya, saat pelaku meminta bantuan, korban merasa harus menolong.
Cara Menghindari Romance Scam
Langkah pertama adalah jangan mudah percaya pada orang yang baru dikenal online.
Terutama jika orang itu terlalu cepat menyatakan cinta, terlalu sempurna, atau langsung membicarakan masa depan bersama.
Jangan pernah mengirim uang kepada orang yang belum pernah ditemui langsung.
Apalagi jika alasannya darurat, penuh tekanan, atau membuat korban merasa bersalah.
Jika ada yang mengaku mengirim hadiah dari luar negeri, jangan langsung percaya.
Paket asli bisa dilacak melalui jasa pengiriman resmi. Jika ada orang yang meminta transfer ke rekening pribadi untuk biaya pajak atau bea cukai, itu sangat mencurigakan.
Yang juga penting, jangan memberikan data pribadi.
Jangan kirim foto KTP, nomor rekening, kode OTP, alamat rumah, PIN, password, atau akses ke akun keuangan.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Terlanjur Jadi Korban?
Jika sudah terlanjur mengirim uang, segera hentikan komunikasi dengan pelaku.
Jangan kirim uang tambahan meski pelaku mengancam, menangis, atau memberi janji akan mengembalikan semuanya.
Simpan semua bukti.
Mulai dari chat, nomor telepon, rekening tujuan, bukti transfer, foto profil, username media sosial, dan tautan platform yang digunakan.
Setelah itu, hubungi bank atau penyedia layanan pembayaran untuk meminta bantuan pemblokiran atau pelacakan transaksi jika masih memungkinkan.
Korban juga bisa melaporkan kasus ke pihak berwenang.
Kondisi ini perlu dilakukan secepat mungkin karena pelaku biasanya bergerak cepat setelah menerima uang. (Sol)




