Coinbase Rugi Dua Kuartal Beruntun, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

|

9 Views
Coinbase rugi US$394 juta pada Q1 2026 saat aktivitas trading crypto melemah

FinanSaya.com – Coinbase rugi US$394,1 juta pada Q1 2026 setelah pendapatan gagal memenuhi ekspektasi dan aktivitas trading crypto melemah tajam.

Bursa kripto besar asal Amerika Serikat itu mencatat kerugian besar pada kuartal pertama 2026. Penyebabnya datang dari dua arah sekaligus, yakni pendapatan gagal memenuhi ekspektasi pasar dan aktivitas trading kripto melemah tajam.

Masalahnya, ini bukan kerugian kecil.

Coinbase melaporkan rugi bersih sebesar US$394,1 juta pada Q1 2026. Angka ini berbalik drastis dibanding periode yang sama tahun lalu, ketika perusahaan masih mencatat laba US$65,6 juta.

Kondisi ini juga membuat Coinbase mencatat kerugian untuk kuartal kedua berturut-turut.

Pendapatan Coinbase Rugi dari Ekspektasi Pasar

Coinbase membukukan pendapatan sebesar US$1,41 miliar pada kuartal pertama 2026.

Angka itu lebih rendah dari estimasi analis Wall Street yang memperkirakan pendapatan perusahaan bisa mencapai sekitar US$1,5 miliar.

Selisihnya terlihat tidak terlalu besar di atas kertas. Namun bagi perusahaan seperti Coinbase, meleset dari ekspektasi bisa langsung memicu tekanan besar di pasar saham.

Di sinilah masalahnya.

Bisnis utama Coinbase masih sangat bergantung pada aktivitas perdagangan kripto. Ketika pasar ramai, transaksi naik. Saat transaksi naik, pendapatan dari biaya trading ikut terdongkrak.

Namun saat pasar sepi, dampaknya langsung terasa.

Trading Kripto Melemah, Pendapatan Transaksi Anjlok

Pendapatan transaksi Coinbase dilaporkan turun 40% dibanding tahun sebelumnya.

Penurunan ini menjadi salah satu pukulan terbesar bagi kinerja perusahaan. Aktivitas perdagangan kripto di awal 2026 melemah tajam, membuat pemasukan dari transaksi ikut menyusut.

Chief Financial Officer Coinbase, Alesia Haas, mengatakan kondisi makroekonomi menjadi tantangan besar bagi industri kripto.

Menurutnya, kapitalisasi pasar kripto global dan volume perdagangan sama-sama turun lebih dari 20 persen secara kuartalan.

Artinya, tekanan tidak hanya menimpa Coinbase.

Pasar kripto secara keseluruhan sedang kehilangan tenaga. Investor lebih hati-hati, trader mengurangi transaksi, dan minat spekulatif tidak sekuat periode sebelumnya.

Contohnya sederhana.

Jika saat pasar bullish seorang trader bisa melakukan banyak transaksi dalam sehari, maka saat pasar lesu aktivitas itu bisa turun drastis. Bagi Coinbase, setiap transaksi yang hilang berarti potensi pendapatan yang ikut menguap.

Coinbase Rugi Dua Kuartal Beruntun

Divisi Subscription dan Services Turut Sebabkan Coinbase Rugi

Namun tekanan Coinbase tidak berhenti di bisnis trading.

Divisi subscription dan services juga ikut melemah. Pendapatan dari lini bisnis tersebut turun sekitar 13,5 persen dibanding tahun lalu.

Padahal lini ini penting bagi Coinbase.

Subscription dan services biasanya membantu perusahaan mengurangi ketergantungan dari biaya trading. Jika lini ini ikut turun, ruang pertahanan Coinbase menjadi lebih sempit.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perlambatan tidak hanya terjadi di satu sisi bisnis.

Trading melemah. Layanan pendukung ikut turun. Ekspektasi analis gagal dipenuhi.

Hasil akhirnya langsung terlihat pada laporan laba rugi perusahaan.

Rugi Per Saham Coinbase Jauh Lebih Buruk

Akibat tekanan tersebut, laba per saham Coinbase berubah menjadi rugi US$1,49 per saham.

Angka ini jauh lebih buruk dibanding ekspektasi analis yang memperkirakan rugi hanya sekitar 36 sen per saham.

Perbedaan ini cukup tajam.

Pasar sebelumnya sudah memperkirakan Coinbase akan mencatat kerugian. Namun realisasi yang jauh lebih besar membuat investor harus menghitung ulang risiko perusahaan.

Pasar pun langsung bereaksi setelah laporan keuangan dirilis.

Saham Coinbase turun sekitar 4,7 persen pada perdagangan after-hours. Secara year-to-date, saham perusahaan kini telah melemah lebih dari 14,5 persen.

Tekanan ini muncul di tengah pasar kripto yang juga belum pulih sepenuhnya sepanjang awal 2026.

Namun konsekuensinya jelas.

Ketika pasar kripto lesu, saham Coinbase bisa ikut terseret. Bahkan tekanan bisa terasa lebih kuat karena investor juga menilai pendapatan, biaya operasional, dan prospek bisnis perusahaan.

Brian Armstrong Tetap Optimis

Meski Coinbase rugi besar, CEO Brian Armstrong tetap optimis terhadap prospek jangka panjang perusahaan.

Armstrong mengatakan Coinbase selama setahun terakhir telah bertransformasi dari sekadar platform trading kripto menjadi marketplace yang mendukung berbagai kelas aset digital.

Pernyataan ini menunjukkan arah baru Coinbase.

Perusahaan tidak ingin hanya dikenal sebagai tempat jual beli Bitcoin, Ethereum, dan aset kripto lain. Coinbase ingin menjadi bagian dari infrastruktur keuangan digital yang lebih luas.

Armstrong juga menilai sistem keuangan global perlahan bergerak menuju infrastruktur berbasis blockchain atau on-chain. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya