FinanSaya.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat pada perdagangan Selasa di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Berdasarkan data pasar terbaru, IHSG naik sekitar 1,22 persen dan berakhir di kisaran level 7.057. Nilai transaksi juga cukup besar, mencapai sekitar Rp16,7 triliun.
Kondisi ini menunjukkan sentimen pasar domestik masih relatif positif meski dunia sedang dibayangi ketegangan geopolitik.
Sektor Industri Dasar Jadi Penggerak
Penguatan IHSG kali ini banyak ditopang sektor basic industry atau industri dasar.
Sementara itu, sektor kesehatan dan beberapa saham blue chip justru masih mengalami tekanan.
Pergerakan ini menunjukkan investor mulai selektif memilih sektor yang dinilai lebih tahan terhadap kondisi global saat ini.
Selat Hormuz Jadi Sorotan Dunia
Salah satu faktor yang paling diperhatikan pasar saat ini adalah ketegangan di Selat Hormuz.
Wilayah ini merupakan jalur laut strategis antara Teluk Persia dan Samudera Hindia yang dilalui sekitar 20 hingga 25 persen pasokan minyak dunia setiap hari.
Artinya, jika terjadi gangguan di wilayah tersebut, dampaknya bisa langsung terasa ke pasar global.
Harga Minyak Bertahan di Atas US$100
Gangguan pasokan energi akibat konflik di kawasan tersebut membuat harga minyak dunia tetap bertahan di atas US$100 per barel.
Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi global dan meningkatkan sikap risk-off investor.
Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar biasanya cenderung lebih berhati-hati dan mengurangi aset berisiko.
Efeknya juga bisa terasa ke pasar saham Indonesia.
IHSG Masih Dalam Fase Korektif
Meski berhasil menguat, secara teknikal IHSG masih berada dalam fase korektif setelah tekanan jual besar di akhir pekan lalu.
Ada peluang rebound jangka pendek jika sentimen global mulai membaik.
Namun tekanan masih bisa muncul sewaktu-waktu selama ketidakpastian geopolitik belum mereda. (Sam)




