FinanSaya.com – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM resmi mengumumkan rencana pembelian kembali atau buyback saham dengan nilai maksimal mencapai Rp1 triliun.
Informasi tersebut disampaikan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 1 Mei 2026.
Langkah ini langsung menarik perhatian investor karena buyback sering dianggap sebagai sinyal bahwa perusahaan melihat valuasi sahamnya masih menarik.
Buyback Akan Dilakukan di Indonesia dan Amerika
Dalam dokumen resmi perusahaan, Telkom menjelaskan buyback akan mencakup saham yang diperdagangkan di BEI maupun saham berbentuk American Depositary Receipt atau ADR di New York Stock Exchange.
Artinya, aksi korporasi ini tidak hanya menyasar pasar domestik tetapi juga pasar internasional.
Nilai total buyback diperkirakan mencapai maksimal Rp1 triliun.
Menunggu Persetujuan RUPS
Meski sudah diumumkan, buyback baru akan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS yang dijadwalkan pada 8 Juni 2026.
Kalau disetujui, periode buyback diperkirakan berlangsung mulai 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027.
Telkom juga memastikan jumlah saham yang dibeli kembali tidak akan melebihi 10 persen dari total modal ditempatkan dan disetor.
Selain itu, perusahaan tetap menjaga jumlah saham publik atau free float agar tidak turun di bawah batas minimal 15 persen sesuai aturan bursa.
Gunakan Dana Internal Perusahaan
Untuk pendanaan buyback, Telkom menegaskan seluruh dana berasal dari kas internal perusahaan.
Artinya, perusahaan tidak menggunakan pinjaman baru maupun dana hasil penawaran umum untuk aksi pembelian saham tersebut.
Manajemen juga menyebut buyback diperkirakan tidak akan memberikan dampak negatif material terhadap kegiatan usaha perusahaan.
Buyback Sering Jadi Sinyal Positif
Di pasar modal, aksi buyback biasanya dipandang sebagai langkah perusahaan untuk menjaga stabilitas harga saham atau meningkatkan kepercayaan investor.
Karena saat perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri, jumlah saham yang beredar di pasar menjadi lebih sedikit.
Kondisi itu sering dianggap bisa membantu menjaga nilai saham dalam jangka panjang. (Sol)




