FinanSaya.com – Airlangga Hartarto kembali menyoroti dampak besar krisis Timur Tengah terhadap ekonomi kawasan Asia Tenggara.
Dalam pertemuan Special AEC Council Meeting on the Middle East Crisis yang digelar secara virtual pada Rabu, 30 April 2026, Indonesia menegaskan pentingnya penguatan kerja sama regional ASEAN untuk menghadapi tekanan global yang semakin berat.
Pertemuan tersebut secara khusus membahas ancaman lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga risiko terhadap ketahanan pangan di kawasan.
Airlangga mengatakan kondisi global saat ini mulai memberikan tekanan serius terhadap stabilitas ekonomi kawasan.
Lonjakan harga energi, biaya logistik yang meningkat, serta gejolak harga pangan disebut menjadi ancaman nyata yang bisa berdampak langsung pada masyarakat ASEAN.
Karena itu Indonesia mendorong negara-negara ASEAN memperkuat kerja sama di sektor energi, pangan, dan rantai pasok agar kawasan tidak terlalu rentan terhadap guncangan eksternal.
Indonesia Dorong Cadangan Energi ASEAN
Dalam forum tersebut, Indonesia mengusulkan beberapa langkah konkret untuk memperkuat ketahanan energi kawasan.
Mulai dari diversifikasi jalur pasokan energi, penguatan mekanisme cadangan energi, hingga percepatan proyek regional seperti:
- ASEAN Power Grid
- ASEAN Petroleum Security Agreement
- Trans-ASEAN Gas Pipeline
Langkah tersebut dinilai penting agar ASEAN tidak terlalu bergantung pada kondisi geopolitik global yang sedang tidak stabil.
Ketahanan Pangan Jadi Fokus Penting
Selain energi, Indonesia juga menyoroti ancaman terhadap ketahanan pangan kawasan.
Kenaikan biaya logistik dan volatilitas harga pupuk disebut bisa mengganggu stabilitas pasokan pangan di negara-negara ASEAN.
Karena itu pemerintah mendorong optimalisasi ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve atau APTERR untuk menjaga cadangan beras kawasan.
Menurut Airlangga, penguatan koordinasi dan respons cepat antarnegara ASEAN sangat penting agar harga pangan tetap stabil dan tidak memberatkan masyarakat.
ASEAN Ingin Perdagangan Tetap Lancar
Indonesia juga menekankan pentingnya menjaga arus perdagangan tetap terbuka.
Optimalisasi ASEAN Single Window dinilai bisa membantu mempercepat arus barang dan menjaga daya saing ekonomi kawasan di tengah tekanan global.
Dalam pernyataan bersama, para menteri ASEAN sepakat memperkuat kerja sama regional, menjaga stabilitas perdagangan, dan memastikan kebijakan ekonomi berjalan lebih terkoordinasi.
Banyak Menteri ASEAN Ikut Pertemuan
Pertemuan virtual tersebut juga dihadiri sejumlah menteri ekonomi dan perdagangan negara ASEAN.
Mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, hingga Brunei Darussalam ikut membahas strategi menghadapi dampak krisis global yang semakin meluas.
Kondisi Timur Tengah saat ini memang mulai menjadi perhatian serius banyak negara karena berpotensi memicu lonjakan harga minyak, gangguan distribusi barang, hingga tekanan ekonomi global yang lebih besar. (Sol)




