Banyak orang merasa emosinya lebih tidak stabil saat kondisi keuangan sedang sulit. Hal kecil yang biasanya bisa ditahan tiba-tiba terasa menyebalkan. Nada bicara jadi lebih tinggi, kesabaran menipis, dan konflik lebih mudah muncul.
Ini bukan sekadar soal kepribadian. Sejumlah penelitian di bidang psikologi dan ekonomi perilaku menunjukkan bahwa kondisi finansial memang punya pengaruh langsung terhadap cara seseorang berpikir dan bereaksi.
Salah satu penyebab utamanya adalah stres. Menurut laporan dari American Psychological Association, masalah keuangan termasuk sumber stres terbesar dalam kehidupan orang dewasa. Ketika seseorang tidak punya uang atau merasa kekurangan, otak masuk ke mode waspada. Tubuh memproduksi hormon stres seperti kortisol, yang membuat kita lebih sensitif terhadap gangguan. Dalam kondisi ini, emosi cenderung lebih cepat naik, bahkan untuk hal-hal kecil.
Selain itu, ada konsep yang dikenal sebagai scarcity mindset. Dalam buku Scarcity: Why Having Too Little Means So Much karya Sendhil Mullainathan dan Eldar Shafir, dijelaskan bahwa ketika seseorang merasa kekurangan, pikirannya akan terus terfokus pada apa yang tidak dimiliki.
Akibatnya, kapasitas mental untuk berpikir jernih jadi berkurang. Orang jadi lebih mudah tersinggung, kurang sabar, dan cenderung bereaksi spontan tanpa pertimbangan panjang.
Dari sisi biologis, kondisi ini juga berkaitan dengan rasa tidak aman. Uang sering kali dipersepsikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makan dan tempat tinggal. Ketika itu terganggu, otak membaca situasi sebagai ancaman.
Dalam kerangka Hierarki Kebutuhan Maslow, kebutuhan dasar harus terpenuhi lebih dulu sebelum seseorang bisa merasa tenang secara emosional. Jika belum terpenuhi, wajar jika respons yang muncul lebih reaktif, termasuk kemarahan.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences juga menemukan bahwa tekanan finansial dapat menurunkan kemampuan kognitif secara sementara.
Sederhananya, saat seseorang sedang memikirkan uang terus-menerus, “ruang berpikirnya” jadi sempit. Ini membuat kontrol diri menurun. Orang jadi lebih sulit menahan emosi, lebih impulsif, dan lebih cepat terpancing.
Di luar faktor internal, ada juga aspek psikologis yang sering tidak disadari, yaitu harga diri. Uang kerap dikaitkan dengan keberhasilan dan kemandirian. Ketika seseorang tidak memilikinya, bisa muncul perasaan gagal atau tidak cukup baik. Perasaan ini tidak selalu terlihat secara langsung, tapi sering muncul dalam bentuk kemarahan atau sikap defensif.
Kalau ditarik benang merahnya, kemarahan saat tidak punya uang bukan muncul begitu saja. Itu adalah hasil dari tekanan mental, keterbatasan kapasitas berpikir, rasa tidak aman, dan beban psikologis yang saling menumpuk.




