FinanSaya.com – Otoritas Jasa Keuangan, atau OJK ingin sektor jasa keuangan ikut menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah Indonesia.
Caranya bukan hanya dengan memperluas akses pembiayaan, tetapi memastikan dana masuk ke sektor yang produktif, inklusif, dan tepat sasaran. Fokusnya adalah sektor unggulan berbasis potensi lokal.
Sebagaimana diketahui, pertumbuhan ekonomi daerah Indonesia tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri.
Setiap wilayah punya kekuatan berbeda. Ada daerah kuat di agrikultur, ada yang unggul di ekonomi kreatif, ada yang punya potensi pangan, kopi, susu, film, hingga pariwisata.
Di sinilah pertumbuhan ekonomi daerah Indonesia membutuhkan sinergi banyak pihak.
OJK Tekankan Kolaborasi Lintas Sektor
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan pentingnya kolaborasi dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah atau KNPED 2026.
Forum tersebut mengangkat tema Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor.
Dalam keterangan resminya, Friderica menyebut bahwa tantangan global tidak boleh menyurutkan optimisme Indonesia. Justru, kekuatan Indonesia salah satunya berada pada kekuatan ekonomi daerah.
Sejatinya, pertumbuhan ekonomi daerah Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah pusat. OJK, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, pemerintah daerah, industri jasa keuangan, serta kementerian teknis sektor riil harus bergerak bersama.
Program PED Jadi Jalan Utama
Sejak 2024, OJK mengembangkan Program Pengembangan Ekonomi Daerah atau PED.
Program ini dirancang untuk mengoptimalkan potensi ekonomi lokal melalui kolaborasi dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan industri jasa keuangan.
Sampai saat ini, Program PED telah diimplementasikan di 40 kabupaten dan kota.
Fokusnya ada pada sektor agrikultur dan ekonomi kreatif, termasuk di Sumatera Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta.
Dengan skema seperti ini, pertumbuhan ekonomi daerah Indonesia diharapkan tidak hanya bertumpu pada kota besar, tetapi juga menyebar ke wilayah yang punya potensi lokal kuat.
Pembiayaan Harus Tepat Sasaran
Pembiayaan menjadi salah satu kunci.
Namun pembiayaan yang dibutuhkan bukan sekadar dana murah. Yang lebih penting adalah pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan sektor, kapasitas pelaku usaha, dan rantai nilai daerah.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mokhamad Misbakhun, menyampaikan bahwa sektor jasa keuangan punya kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menurutnya, pembiayaan yang tepat sasaran bisa membantu pemberdayaan UMKM, memperkuat daya beli masyarakat, dan berdampak pada PDB.
Di sinilah pertumbuhan ekonomi daerah Indonesia sangat bergantung pada kualitas akses keuangan.
Jika pelaku usaha kecil mendapat pembiayaan, tetapi tidak mendapat pendampingan, pasar, dan ekosistem, hasilnya bisa kurang maksimal.
TPAKD Jadi Pintu Akses
Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah atau TPAKD menjadi salah satu instrumen penting.
Melalui TPAKD, potensi unggulan daerah dipetakan. Setelah itu, kolaborasi dengan lembaga jasa keuangan dan sektor riil disiapkan agar pembiayaan bisa lebih terarah.
Tahapan PED yang dilakukan OJK mencakup pemetaan potensi ekonomi unggulan, kolaborasi multistakeholder, peningkatan kapasitas, dukungan pembiayaan sektor jasa keuangan dan sektor riil, serta pemanfaatan produk keuangan untuk meningkatkan nilai tambah daerah.
Baca Juga: Modus Pelunasan Utang Pinjol Kian Masuk Radar OJK
KUR dan Digitalisasi Ikut Didorong
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah Indonesia adalah salah satu komponen penting.
Karena itu, pemerintah terus mendorong penyaluran Kredit Usaha Rakyat atau KUR.
Selain KUR, pemerintah juga mendorong digitalisasi kegiatan ekonomi, hilirisasi, pengembangan industri semikonduktor di daerah, dan penyiapan sumber daya manusia yang andal.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah Indonesia tidak bisa hanya ditopang modal.
Daerah juga membutuhkan teknologi, keahlian, akses pasar, infrastruktur, dan kebijakan yang konsisten.
Anggaran Harus Jadi Produktivitas
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan bahwa ekonomi daerah yang kuat bukan hanya soal besarnya anggaran.
Yang penting adalah kemampuan daerah mengubah anggaran menjadi layanan, layanan menjadi produktivitas, dan produktivitas menjadi kesejahteraan.
Jika kebijakan pusat dan daerah bergerak bersama, pertumbuhan ekonomi daerah Indonesia bisa lebih terasa sampai ke rumah tangga.
Bukan hanya terlihat di laporan ekonomi.
Kopi, Susu, Pangan, dan Film
Arah Program PED terlihat dari fokus beberapa wilayah.
Di Sumatera Selatan, PED difokuskan pada pengembangan ekosistem kopi dari hulu hingga hilir. Pada 2025, produksi kopi Indonesia mencapai 832,7 ribu ton dan berpotensi meningkat hingga 1,2 juta ton per tahun melalui optimalisasi produktivitas lahan. Industri olahan kopi disebut memiliki valuasi mencapai Rp129 triliun.
Di Jawa Timur, PED mengembangkan ekosistem susu sapi perah untuk mendukung rantai nilai pangan nasional. Nilai ekonominya mencapai Rp49,5 triliun.
Di Jawa Tengah, PED mendukung ketahanan pangan melalui padi, jagung, dan rajungan dengan potensi ekonomi hingga Rp1.684 triliun.
Di Jakarta, PED mendorong ekonomi kreatif, termasuk film dan konten kreatif, dengan potensi nilai mencapai Rp2.130 triliun pada 2029.
Contoh ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi daerah Indonesia punya wajah yang berbeda di setiap wilayah.
LJK Perlu Masuk Sesuai Kebutuhan
Ekosistem PED diharapkan didukung berbagai lembaga jasa keuangan atau LJK.
Setidaknya, program ini melibatkan tiga jenis LJK sesuai kebutuhan dan kapasitas daerah.
Ini penting karena setiap sektor butuh pembiayaan berbeda.
Petani kopi mungkin butuh modal kerja, asuransi, pembiayaan alat, dan akses pasar. Peternak susu butuh pembiayaan kandang, teknologi pendingin, dan rantai distribusi. Pelaku film butuh modal produksi, distribusi, dan perlindungan hak kekayaan intelektual.
Dengan pembiayaan yang sesuai, pertumbuhan ekonomi daerah Indonesia bisa lebih kuat dan tidak hanya berhenti pada potensi.
Pertumbuhan Ekonomi Daerah Indonesia Jadi Fondasi
OJK menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk memperluas implementasi PED di berbagai wilayah Indonesia.
Arah ini penting karena pembangunan nasional tidak bisa hanya bertumpu pada pusat.
Jika daerah kuat, ekonomi nasional ikut lebih kokoh.
Namun keberhasilan program tidak boleh berhenti pada konferensi atau seremoni. Dampaknya harus terasa pada petani, peternak, UMKM, pekerja kreatif, pelaku usaha, dan keluarga di daerah.
Ke depan, pertumbuhan ekonomi daerah Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan membangun rantai nilai lokal, memperluas akses pembiayaan, dan menjaga kolaborasi antarlembaga. (Sol)




