Lansia Jawa Timur Masih Bekerja, Upahnya Rendah

|

2 Views
Lansia Jawa Timur Masih Bekerja, Upahnya Rendah

FinanSaya.com – Di Jawa Timur, banyak warga lanjut usia masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, sebagian besar lansia Jawa Timur memperoleh pendapatan kurang dari Rp1 juta per bulan.

Kondisi lansia Jawa Timur menunjukkan bahwa masa tua masih bisa penuh tekanan ekonomi. Mereka tetap bekerja saat usia sudah tidak muda, sementara kebutuhan dasar dan biaya kesehatan terus berjalan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur dalam publikasi Profil Penduduk Lanjut Usia Provinsi Jawa Timur 2025, sebanyak 41,43 persen lansia yang bekerja menerima upah, gaji, atau pendapatan kurang dari Rp1 juta per bulan.

Banyak Lansia Jawa Timur Masuk Kelompok Pendapatan Rendah

Data BPS memperlihatkan kelompok pendapatan terbesar pada lansia Jawa Timur yang bekerja berada di bawah Rp1 juta per bulan.

Sementara itu, lansia bekerja dengan pendapatan Rp1 juta hingga Rp1,99 juta tercatat sebesar 28,74 persen. Kemudian, lansia dengan pendapatan Rp2 juta hingga Rp2,99 juta sebesar 14,58 persen.

Adapun lansia Jawa Timur yang memiliki pendapatan Rp3 juta ke atas hanya 15,25 persen.

Artinya, mayoritas lansia yang masih aktif bekerja berada pada kelompok pendapatan rendah hingga menengah bawah.

Pendidikan Rendah Batasi Pilihan Kerja

BPS menjelaskan, rendahnya pendapatan tersebut berkaitan dengan latar belakang pendidikan lansia yang bekerja.

Mayoritas lansia Jawa Timur adalah pekerja berpendidikan rendah. Kondisi ini membuat pilihan pekerjaan menjadi terbatas, begitu juga tingkat pendapatan yang bisa diperoleh.

Kesenjangan pendapatan pun terlihat cukup mencolok antara lansia Jawa Timur laki-laki dan perempuan.

BPS mencatat 57,55 persen lansia perempuan yang bekerja memiliki pendapatan di bawah Rp1 juta per bulan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan lansia laki-laki pada kelompok pendapatan yang sama, yakni 31,46 persen.

Sebaliknya, lansia laki-laki lebih banyak berada pada kelompok pendapatan tinggi.

Lansia laki-laki dengan pendapatan Rp3 juta ke atas mencapai 19,67 persen. Sementara lansia perempuan pada kelompok tersebut hanya 8,11 persen.

Data ini menunjukkan kerentanan ekonomi lansia Jawa Timur perempuan lebih besar.

Masalahnya, kerentanan perempuan lansia sering berlapis. Mereka bisa menghadapi pendidikan yang lebih rendah, akses kerja yang lebih terbatas, serta posisi tawar yang lebih lemah dalam pekerjaan.

Pedesaan Sedikit Lebih Tertekan

Jika dilihat berdasarkan wilayah, lansia Jawa Timur pekerja di perdesaan sedikit lebih banyak berada pada kelompok pendapatan di bawah Rp1 juta.

Persentasenya mencapai 42,84 persen.

Sementara itu, di wilayah perkotaan, lansia pekerja dengan pendapatan di bawah Rp1 juta tercatat 40,26 persen.

Untuk kelompok pendapatan Rp3 juta ke atas, lansia pekerja di perkotaan mencapai 17,41 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perdesaan yang sebesar 12,64 persen.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa lokasi tempat tinggal ikut memengaruhi peluang ekonomi.

Perkotaan biasanya memberi pilihan pekerjaan lebih beragam. Sementara di perdesaan, pilihan kerja lebih banyak bertumpu pada sektor tertentu, terutama pertanian.

Baca Juga: Kerja Sampingan Kini Jadi Kewajiban Kelas Menengah

Pertanian Jadi Tumpuan Utama

BPS mencatat sebagian besar lansia Jawa Timur bekerja di sektor pertanian.

Persentasenya mencapai 58,83 persen.

Di wilayah perdesaan, sektor pertanian bahkan menyerap 75,16 persen dari total lansia yang bekerja.

Sektor ini memang relatif terbuka untuk semua kelompok usia. Tidak selalu mensyaratkan pendidikan tinggi, sertifikat, atau keterampilan formal tertentu.

Namun, pekerjaan pertanian juga punya risiko pendapatan yang tidak stabil.

Hasilnya bergantung pada musim, kondisi lahan, hasil panen, harga komoditas, dan biaya produksi. Jika panen buruk atau harga turun, pendapatan ikut tertekan.

Perdagangan dan Industri Ikut Serap Lansia

Selain pertanian, sektor perdagangan juga menjadi tempat banyak lansia bekerja.

BPS mencatat sektor perdagangan menyerap 14,46 persen lansia pekerja. Kemudian, sektor industri pengolahan sebesar 8,31 persen, akomodasi makan minum 7,07 persen, dan sektor lainnya 11,33 persen.

Data ini menunjukkan lansia Jawa Timur masih aktif dalam berbagai kegiatan ekonomi.

Kebutuhan Kesehatan Lansia Jawa Timur

Pendapatan rendah menjadi lebih berat karena lansia biasanya memiliki kebutuhan kesehatan lebih tinggi.

Semakin bertambah usia, semakin besar kemungkinan muncul keluhan kesehatan, kebutuhan obat, pemeriksaan rutin, atau perawatan tertentu.

Jika pendapatan kurang dari Rp1 juta per bulan, ruang untuk biaya kesehatan menjadi sangat sempit.

Masalahnya, ketika kesehatan terganggu, kemampuan bekerja juga bisa turun. Jika kemampuan bekerja turun, pendapatan ikut melemah.

Ini bisa menjadi lingkaran sulit bagi lansia Jawa Timur yang belum memiliki tabungan, perlindungan sosial memadai, atau dukungan keluarga yang cukup. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya