FinanSaya.com – Sejumlah harga pangan Surabaya mulai bergerak turun.
Berdasarkan data dari Siskaperbapo, pada Jumat, 15 Mei 2026 sejumlah komoditas pangan di tingkat konsumen tercatat melemah. Penurunan terjadi pada beras, cabai, bawang, kedelai, ikan asin, hingga sayur mayur.
Satu hal yang perlu diperhatikan, yakni penurunan ini belum merata ke semua bahan pangan.
Beberapa komoditas memang turun cukup dalam. Namun, sebagian lainnya masih tercatat naik, sehingga konsumen tetap perlu cermat saat belanja.
Data harga pangan Surabaya rata-rata pukul 10.41 WIB dihimpun dari lima pasar pantauan di Surabaya. Yakni Pasar Tambahrejo, Pasar Keputran, Pasar Genteng, Pasar Soponyono, dan Pasar Wonokromo.
Kedelai Lokal Turun Paling Dalam
Penurunan harga pangan Surabaya terdalam terjadi pada kedelai lokal.
Harga kedelai lokal turun 7,14 persen dari sebelumnya Rp14.000 menjadi Rp13.000 per kilogram.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kedelai merupakan bahan penting bagi pelaku usaha makanan, terutama produsen tahu dan tempe.
Jika penurunan berlanjut, tekanan biaya produksi bisa sedikit mereda.
Namun, efek ke harga jual produk olahan belum tentu langsung terasa. Pelaku usaha masih harus menghitung stok lama, biaya produksi lain, dan permintaan pasar.
Selain kedelai lokal, kedelai impor juga turun.
Harganya melemah 4,74 persen dari Rp16.166 menjadi Rp15.400 per kilogram.
Tomat dan Ikan Asin Ikut Melemah
Komoditas lain yang turun cukup besar adalah tomat merah.
Harga tomat merah turun 6,97 persen dari Rp14.833 menjadi Rp13.800 per kilogram.
Penurunan ini bisa membantu belanja dapur rumah tangga. Sebab, tomat sering digunakan untuk masakan harian, sambal, hingga kebutuhan warung makan.
Ikan asin teri juga ikut turun.
Harga pangan Surabaya satu ini melemah 6,32 persen dari sebelumnya Rp87.800 menjadi Rp82.250 per kilogram.
Meski turun, harga ikan asin teri masih tergolong tinggi dibanding banyak lauk harian lain. Karena itu, konsumen kemungkinan tetap akan menyesuaikan pembelian dengan kebutuhan.
Baca Juga: Pasar Keputran Direvitalisasi, Anggaran Capai Rp7,7 Miliar
Sayur Mayur Surabaya Ikut Turun
Di kelompok sayur mayur, beberapa harga juga bergerak turun.
Kentang turun 5,26 persen dari Rp15.833 menjadi Rp15.000 per kilogram. Ketela pohon juga turun 5,26 persen dari Rp6.333 menjadi Rp6.000 per kilogram.
Buncis ikut melemah 4,27 persen dari Rp14.833 menjadi Rp14.200 per kilogram.
Sementara wortel turun lebih tipis, yakni 1,82 persen dari Rp12.833 menjadi Rp12.600 per kilogram.
Di sinilah konsumen bisa mulai mengatur ulang daftar belanja.
Saat beberapa sayur turun, rumah tangga bisa memilih menu yang lebih hemat tanpa mengurangi kebutuhan gizi.
Cabai, Bawang, dan Beras Turun Tipis
Penurunan juga terjadi pada bumbu dapur.
Harga bawang merah turun 2,22 persen dari Rp40.500 menjadi Rp39.600 per kilogram. Bawang putih Sinco atau Honan turun 0,84 persen dari Rp31.666 menjadi Rp31.400 per kilogram.
Untuk cabai, penurunannya masih terbatas.
Cabai merah keriting turun 1,43 persen dari Rp46.666 menjadi Rp46.000 per kilogram. Cabai rawit merah turun tipis 0,88 persen dari Rp64.166 menjadi Rp63.600 per kilogram.
Beras juga ikut melemah.
Beras premium turun 0,53 persen dari Rp15.583 menjadi Rp15.500 per kilogram. Beras medium turun 1,32 persen dari Rp12.666 menjadi Rp12.500 per kilogram.
Penurunan beras memang kecil, tetapi tetap penting karena beras menjadi kebutuhan utama rumah tangga.
Harga Pangan Surabaya Belum Sepenuhnya Stabil
Beberapa harga pangan Surabaya di komoditas lain juga ikut turun.
Telur ayam kampung turun dari Rp46.666 menjadi Rp46.400 per kilogram. Terigu protein sedang kemasan turun dari Rp12.416 menjadi Rp12.300 per kilogram.
Garam bata turun dari Rp1.437 menjadi Rp1.416 per buah. Sementara Indomie rasa kari ayam turun tipis dari Rp3.166 menjadi Rp3.160 per bungkus.
Namun untuk diketahui, pasar belum sepenuhnya bergerak turun.
Beberapa bahan pangan masih tercatat naik, seperti ikan kembung, ikan tuna, cabai merah besar, kacang tanah, hingga minyak goreng kemasan premium.
Untuk saat ini, penurunan harga bahan pokok Surabaya memberi sedikit napas bagi konsumen. Tetapi warga tetap perlu membandingkan harga antar pasar agar belanja dapur bisa lebih terkendali. (Sol)




