FinanSaya.com – Baru-baru ini, terpantau ada 5 saham anjlok tajam sebelum libur bursa.
Berdasarkan data TradingView, sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia masuk daftar top losers pada perdagangan terakhir. Tekanan ini terjadi saat pasar saham domestik juga sedang berada dalam fase koreksi.
Pelemahan ternyata tidak hanya menimpa saham kecil.
5 saham anjlok juga datang dari perusahaan berkapitalisasi besar seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ikut menjadi korban tekanan jual. Bahkan, TPIA menjadi saham dengan penurunan terdalam dalam daftar tersebut.
TPIA Pimpin 5 Saham Anjlok
Saham TPIA turun 14,85 persen ke level Rp4.300 per saham.
Pelemahan ini membuat emiten petrokimia tersebut menempati posisi teratas dalam daftar saham dengan kerugian terbesar. Berdasarkan laporan StockWatch yang mengutip RTI Business, nilai transaksi TPIA mencapai sekitar Rp330,5 miliar.
Tekanan terhadap TPIA juga muncul di tengah sentimen negatif terhadap sejumlah saham besar.
Sebelumnya, saham TPIA termasuk salah satu saham yang terdampak sentimen perubahan komposisi indeks global MSCI.
Support terdekat: Rp4.300, lalu Rp4.000
Resisten terdekat: Rp4.600–Rp5.000
Selama TPIA belum mampu kembali ke atas Rp4.600, tren jangka pendek masih cenderung bearish. Potensi rebound teknikal bisa muncul karena penurunan sudah dalam, tetapi sifatnya masih rawan menjadi technical rebound sesaat apabila tidak didukung volume beli besar.
SHIP dan SGRO Ikut Tertekan
Di posisi kedua dari 5 saham anjlok, yakni saham PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP) juga mencatat koreksi dalam.
Saham SHIP turun 14,84 persen ke level Rp2.180 per saham. Pelemahan ini menjadikan SHIP sebagai salah satu saham sektor transportasi dengan tekanan paling besar pada perdagangan terakhir.
Support terdekat: Rp2.180, lalu Rp2.000
Resisten terdekat: Rp2.300–Rp2.560
SHIP masih berada dalam tekanan jangka pendek. Rebound baru lebih valid jika harga mampu menembus kembali area Rp2.300–Rp2.560. Jika gagal bertahan di Rp2.180, peluang pelemahan lanjutan ke sekitar Rp2.000 masih terbuka.
Sementara itu, masih dalam top 5 saham anjlok, PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) berada di posisi ketiga.
SGRO melemah 14,67 persen ke level Rp3.140 per saham. Penurunan ini menambah tekanan pada saham sektor industri proses yang ikut melemah di tengah koreksi pasar.
Support terdekat: Rp3.140, lalu Rp3.000
Resisten terdekat: Rp3.400–Rp3.700
SGRO masih berada dalam fase koreksi tajam. Area Rp3.000 menjadi level psikologis penting. Jika level itu jebol, tekanan jual bisa berlanjut. Sebaliknya, rebound baru terlihat lebih sehat jika saham kembali bergerak di atas Rp3.400.
Baca Juga: Apa Itu Value Trap dalam Investasi Saham?
NZIA dan YOII Masuk Top Losers
Saham PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) menempati posisi keempat.
Mengutip data TradingView, NZIA turun 14,66 persen ke level Rp163 per saham. Koreksi ini membuat NZIA masuk dalam lima besar saham dengan penurunan terdalam di Bursa Efek Indonesia.
Support terdekat: Rp160–Rp163, lalu Rp150
Resisten terdekat: Rp175–Rp190
NZIA perlu bertahan di atas Rp160 agar peluang rebound tetap terbuka. Namun karena saham ini cukup volatil, investor perlu berhati-hati terhadap risiko false rebound. Area Rp175–Rp190 menjadi resistance awal yang perlu ditembus untuk mengurangi tekanan jual.
Di posisi kelima ada PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII).
Saham YOII melemah 14,29 persen ke level Rp96 per saham. Dengan penurunan tersebut, YOII melengkapi daftar lima saham yang paling anjlok pada perdagangan terakhir sebelum libur bursa.
Support terdekat: Rp96, lalu Rp90
Resisten terdekat: Rp100–Rp112
YOII masih rawan melanjutkan pelemahan apabila tidak mampu kembali ke atas Rp100. Level Rp100 menjadi batas psikologis penting. Jika mampu menembus dan bertahan di atas area tersebut, peluang technical rebound terbuka, tetapi tren besarnya masih lemah.
IHSG Juga Ikut Melemah
5 saham anjlok tersebut terjadi ketika IHSG juga bergerak turun.
Sepanjang pekan pendek perdagangan 11–13 Mei 2026, IHSG melemah 3,53 persen. Dalam periode yang sama, saham SHIP dan SGRO juga masuk daftar saham dengan pelemahan terdalam secara mingguan.
Kondisi ini menunjukkan tekanan pasar tidak berdiri sendiri.
Saat indeks utama melemah, saham-saham yang sedang terkena sentimen negatif bisa turun lebih dalam. Apalagi jika investor memilih mengurangi risiko menjelang libur panjang bursa.
Koreksi tajam dari 5 saham anjlok ini menjadi perhatian pelaku pasar.
Investor akan mencermati apakah tekanan jual masih berlanjut saat perdagangan kembali dibuka, atau justru muncul rebound teknikal pada saham-saham yang sudah jatuh dalam. (Sol)




